Senin, 07 September 2015

Mengapa Kamu Harus Beribadah Pada Hari Minggu?

Oleh : Pdt Dinson Hutabalian STh, disampaikan saat ibadah raya di GPI Namorambe 6 Agustus 2015

Mengapa aku harus meninggalkan pekerjaan, dan apa tujuanku datang beribadah ke gereja. Inilah yang menjadi topic kita hari ini.

Ada lima hal yang menjadi alasan kita datang bergereja atau beribadah pada hari Minggu. Saya juga mengerti dan mempercayai bahwa saudara punya alasan, bergereja, saya meneguhkan alasan saudara dan mempertajam tujuan saudara bergereja.

Kita datang bergereja yang pertama adalah karena kita harus mentaati firman Tuhan yang tertulis kitap keluaran 20:8-11, (8) ingatlahdan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Pelajaran tentang hukum sabat ini, saya percaya kita sudah mendapatkannya sejak anak-anak baik di sekolah minggu maupun lewat orangtua kita. Seperti yang saya katakana, saya menegaskan kembali memperkuat ingatan saudara tentang alasan kita datang bergereja. Seperti disampaikan firman ini, bahwa sesungguhnya orang Kristen, tidak bisa beralasan untuk tidak datang bergereja pada hari Minggu yaitu hari Sabat Tuhan, kenapa? karena Allah sendiri mengungkapkan kebenaran firmannya Dia Allah yang maha kuasa, dia melaksanakan aktivitas sebagai Allah dalam hal mencipta hanya enam hari, dan pad ahari ketujuh hari Sabat Dia berhenti dari pekerjaannya.

Oleh sebab itu, alasan kita untuk datang bergereje kepada Tuhan karena kita Tunduk kepada Firman Tuhan. Itulah alasan yang kuat, itulah motivasi kita. Kita harus rela meninggalkan pekerjaan kita, meninggalkan segala sesuatu di rumah. Kita harus rela meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Karena jelas kata Firman ini kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu;

Saudara yang terkasih, saya mempelajari dan meneliti, bukan saja untuk menyenangkan hati Tuhan tetapi secara biologis pun tubuh kita ini butuh istirahat. Jangan bekerja terus, karena tidak pernah istirahat, maka umur akan pendek. Manusia harus memiliki tiga hal dalam hidupnya di dunia ini, yang pertama manusia harus memiliki keyakinan dengan kata lain dia harus memiliki Tuhan, supaya hidupnya memiliki makna, yang kedua manusia harus memiliki pekerjaan supaya manusia itu berguna atau manfaat, dan yang terakhir manusia itu harus memiliki hiburan supaya hidupnya tidak stress.

Di dalam persekutuan yang kita lakukan saat bergereja pun, sebenarnya sudah merasakan apa yang kita butuhkan dalam hidup. Kita sudah bekerja selama enam hari untuk memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupanmu, kita sudah dihibur oleh firman Tuhan, pujian dan musik sehingga boleh saya katakan bahwa orang yang tidak datang bergereja pada hari minggu akan merasa kerugian yang berlipat kali ganda. Sekalipun engkau berpikir, ketika saya bekerja pada hari Minggu akan mendapatkan gaji yang lebih banyak. Tapi saya katakana kepada saudara, itu akan jatuh kepada keranjang yang bocor.

Kedua, alasan untuk bergereja adalah untuk pertumbuhan rohani. Dengan kita beribadah, kita mendengar firman Tuhan. Kita buka dalam 1 Petrus 2:2, Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan. Apa kata firman tuhan disit?  supaya bertumbuh secara rohani. Kalau ada dalam hatimu, di TV pun ada nya ibadah, adanya kotbah paling enak ada Steven Hong, ada Jakob Nahuwai, ada yang lain sebagainya. Betul. Tapi kamu tidak akan mengalami pertumbuhan rohani disana. Jadi alasan yang kedua kenapa kita harus bergereja, supaya kamu mendapat pertumbuhan secara rohani.

Ibu-ibu yang paling memahami ini, bagaimana merawat seorang bayi. Dimana bayi yang tidak diberikan susu maka pertumbuhannya akan kerdil, maka kalau orang tidak datang bergereja akan mengalami kerdil rohani. Dia tidak akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya, sebab orang yang rohaninya bertumbuh akan dipenuhi dengan akal budinya. Tetapi ketia saudara dan saya datang beribadah, maka kita mengalami eprtumbuhan secara rohani. Mampu menghadapi tantangan hidup ini sebagaimana pun itu.

Kita harus datang bergereja, mungkin kamu berkata, bagaimana dengan ibadah malam? Itukan tidak diharuskan? Kenapa harus dilakukan dalam sekali seminggu? Pertanyaanmu betul, pertanyaanmu tidak salah. Yang kurang tepat ketika engkau tidak datang. sebab gereja sudah membuat aturan seperti itu, supaya engkau mengalami pertumbuhan rohani, baik engkau para anak-anak muda terlebih kita orang tua.

Jika kita beribadah, maka kita akan mendengarkan firman Tuhan, karena iman timbul dari pendengaran, pendengaran firman Kristus. Roma 10:17, darimanakah iman itu timbul? Dari pendengaran akan firman Kristus.

Saya mau katakana kepada saudara, bagaimana kita untuk datang beribadah kepada Tuhan? Harus benar-benar engkau mempersiapkan dirimu. Sama ketika engkau hendak menantikan sesuatu, katakana menantikan tamu atau orang istimewa yang engkau rindukan pasti dengan persiapan. Demikian dengan hari minggu. Kalau engkau mau hari Minggu itu adalah hari beribadah, usahakan jangan menyuci pakaian pada hari minggu, kecuali minggu malamnya. Kadang karena kesibukan, kita menggunakan waktu yang sangat singkat untuk melakukan sesuatu hal lain, sehingga beribadah terlambat. Apakah itu salah? Saya katakana itu salah.

Ibadah itu adalah sesuatu yang penting dalam hidupmu, itu sebabnya mulai pada saat ini, mari kita memperbaharui, mari kita memperbaiki sikap kita dalam beribadah.

Saya berfikir, bagaimanakah sikap orang yang mengikut Tuhan belakangan ini? Apakah orang-orang ini beribadah kepada Tuhan tidak dengan hati yang sungguh-sungguh, atau hanya sekedar yang namanya beragama. Padahal firman tuhan berkata alasan kita bergereja adalah untuk mengalami pertumbuhan rohani. Kalau kau tidak mengalami pertumbuhan rohani, saudara tidak akan mampu menghadapi godaan dan cobaan yang ada dalam kehidupanmu. Sedangkan menteri agama jatuh, jangankan kita.

Alasan yang ketiga, Roma 15:5-7, Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Rasul Paulus menuliskan firman Tuhan ini kepada jemaat di Roma, karena jemaat di Roma berbeda pandangan mengenai kekristenan, karena orang Kristen di Roma ini terdiri daripada orang yang berlatar belakang agama Yunani dan juga agama yahudi. Sehingga timbul pemikiran menurut agama Yahudi, bahwa mereka lebih tinggi dari orang Kristen yang lain, karena mereka sudah lama mengenal hukum taurat.  Bahkan orang Kristen yahuni beranggapan bahwa, walaupun ada orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus melakukan hukum taurat secara murni. Karena patokan kepercayaan kita adalah keselamatan, untuk itulah perlu meneruskan firman Tuhan kepada orang Roma dan juga kepada kita, supaya melalui persekutuan ibadah kita akan terjadi ikatan persaudaraan di dalam Kasih Tuhan.

Kalau tidak ada kerukunan, atau tidak meningkat rasa persaudaraan kita, maka tidak ada artinya peribadatan yang kita lakukan. Saya perhatikan, kalau ada saudaramu yang sakit, hanya beberapa orang yang datang. Dimana rasa persaudaraan kita? Ada undangan untuk melakukanpenghiburan kepada keluarga saudara kita yang terlebih dahulu dipanggil Tuhan, tidak juga datang. dimana ikatan persaudaraan kita itu? Itu sebabnya, mengapa kita perlu bergereja, kita meminta kita pada hari inij supaya melalui bergereja terjadi peningkatan rasa persaudaraan, seperasaan, sehati dan sepikir, karena dalam Firman Tuhan berkata, semoga Allah yang adalah sumber ketekunan, penghiburan mengaruniakan kerukunan kepadamu. Apa yang dirasakan seorag jemaat dapat dirasakan jemaat yang lain. Bahkan Rasul Paulus mengatakan juga, orang yang berkecukupan wajib hukumnya menolong saudaranya yang berkekurangan atau yang lemah.

Kalau berkebetulan ada uang yang banyak engkau punya, harus engkau pikirkan kemana dan kepada siapa saya kasih uang ini. Lihat, kalau engkau yang kuat imannya wajib bagimu untuk emmperkuat orang yang imannya lemah.

Sebab dikatakan Firman Tuhan di sini Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan bapa Tuhan kita, Yesus Kristus . jadi Tuhan ikut berkehandak bahwa alasan kita bergereja adalah untuk meningkatkan kerukunan kita, bertambah suka cita kita. Jangan saling membiarkan.

Saya tidak akan bosan mengingatkan saudara, datanglah beribadah. Sebentar lagi Natal, jangan kita nanti disebut Kristal, Kristen natal. Gereja penuh saat akan natal saja, selain itu melompong.
Sebab itu, bahwa karena kehendak Yesus Kristuslah Engkau datang beribadah. Apabila oleh karena kehendakmu, apabila karena keinginanmu, kurang sempurna. Karena keinginan manusia dengan kehendak Tuhan sangat berbeda. Kehendak Kristus,melalui saudara datang bergereja maka terjadilah persaudaraan yang rukun antara engkau, saya dan saudara.

Di Mazmur 133, ada rahasia yang terkandung ajaib. Bagaimana Tuhan terdorong untuk membuka tingkap-tingkap langit untuk mencurahkan berkatnya berlimpah-limpah bagi setiap orang yang rukun dalam persaudaraan. Persaudaraan yang rukun. Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila sudar-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dank e leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya.

Kalau boleh kita ubah menjadi “Sebab kesinilah”, maka ‘Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sinilah TUHAN memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya’.  Ke dalam hatimu, keluargamu dan gerejamu. Sebab ada berkat yang luar biasa disediakan Tuhan bagi saya dan saudara, Tuhan melimpahkan berkat-berkat itu bagi kita.

Ada lagi yang aneh, datang bergereja tapi pikirannya entah kemana. Badannya duduk di gereja, pikirannya entah kemana-mana. Ada lagi yang lebih aneh, datang bergereja tapi mulutnya tidak bernyanyi bagi tuhan.

Oleh sebab itu, alasan yang ketiga adalah untuk meningkatkan kerukunan persaudaraan. sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Untuk boleh saling menerima ini butuh perjuangan, karena belum tentu sifat sayng satu sama dengan sifat yang lain. Karakter yang satu dengan karakter yang lain. Bagaimana caranya? Harus didasari atas kasih dari Yesus Kristus untuk mengasihi orang lain. Jangan mengatakan, harus yang baiklah menjadi saudaraku, seperti apa sudah kebaikanmu? Harus yang bukan berdosa saudaraku, bagaimana rupanya dirimu, apa tidak berdosa? Oleh sebab itu kata Firman Tuhan terimalah satu dengan yang lain sama seperti Allah …

Beginilah keprihatinan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma ketika itu, mereka tidak memperdulikan ini. Maka dikatakan, jika saudara ingin menjalin hubungan persaudaraan harus atas dasar kasih dari Yesus Kristus.

Yang keempat, untuk melatih kita dalam ibadah dan ketekunan. Firman Tuhan ini disampaikan Rasul Paulus kepada Timoteus sehubungan dengan pelayanan Timoteus dengan orang-orang yang ditempat yang berbeda. Dikatakan disini, peribadatan itu adalah untuk melatih kita dalam ibadah dan ketekunan, 1 Timoteus 4:6-8, Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdirik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini. Tetapi jauhilah takhayul dan dongong nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

Kita datang beribadah adalah untuk melatih diri kita, karena tidak ada satu orang pun yang sempurna dan langsung dewasa. Tetapi kita harus membiasakan dirikita belajar secara terus menerus, sampai engkau mengalami ekdewasaan. Rasul Paulus mengingatkan Timoteus, latihlah dirimu beribadah. Maksudnya disitu bukan hanya Timoteus, tapi Timoteus menyampaikan firman Tuhan itu kepada orang-orang yang dia layani. Karena tidak mungkin engkau langsung dewasa, tanpa kita rutin melakukan ibadah. Melatih diri kita mencapai kesempurnaan penuh.

Jelas sekali firman Tuhan mengingatkan bahwa latihan ibadah itu mengandung janji, janji untuk hidup sekarang maupun yang akan datang. makanya dikatakan dalam bahasa batak, pahombar-hombar dirimu tu hadaulaton asa daulat ho. Jangan engkau menjauhkan diri dari ibadah seperti yang telah dilakukan orang lain, tetapi beridahlah kepada Tuhan, dan harus dilakukan dengan rutin. Karena apa? Karena mengandung janji. Janji apa? Janji untuk hidup yang kekal. Kalau sudah keluargamu terbiasa beribadah kepada Tuhan, maka Tuhan menjamin bahwa keluargamu menjadi keluarga yang harmonis.

Timoteus ketika mendapat Firman yang dituliskan Rasul Paulus ini, hatinya begitu tersentuh dan dia melayani Tuhan. Timoteus itu dipakai Tuhan sejak usia belia, sehingga pada umur 26 tahun dipercayakan untuk menggembalakan gereja yang besar. Efesus, Korintus, Kolose, dan sebagainya. Kenapa, karena dia sudah mengenal pokok-pokok iman.

Jadi kalau engkau mengikuti ibadah selama ini, engkau akan terdidik dalam pokok-pokok iman. Sehingga engkau tidak saja diajar, melainkan menjadi pengajar. Ada peningkatan di sana. Yesus mengharapkan engkau bukan saja menjadi pendengar melainkan juga menjadi pengajar-pengajar bagi orang lain. Itu harapan Tuhan, karena latihan ibadah itu perlu dilatih.

Terkadang seolah-olah gereja itu hanya tempat belanja rohani, saat ada pesta, ada sakit penyakit, maka datanglah bergereja agar gereja melayani. Itu bukan jemaat yang baik. Ibadah itu mengandung janji, hidup yang sekarang dan yang akan datang. apa hidup yang sekarang, engkau sudah mengalaminya. Untuk pesta, pakaian, tempat tinggal, kebutuhan anak, dan lain sebagainya. Itu akan dicukupkan Tuhan melalui kehadiranmu, kesetiaanmu beribadah kepada Tuhan. Jangan cari alasan untuk tidak beribadah.

Jangan kalau pemerintah mengumumkan bahwa masyarakat akan mendapat bantuan sebesar Rp 1,5 juta per orang dan diminta untuk hadir pukul  tujuh. Jangankan pukul tujuh, jam empatpun kita akan hadir disitu. Betul tidak? Tetapi kalau bergereja, dikatakan masuk jam sepuluh, ya sudahlah jam tengah sebelas saja kita datang. baiknya Tuhan itu. Sering kita memperalat kebaikan Tuhan terus. Banyak sekali alasan.

Asalan yang kelima adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Dengan cara bagimana engkau mengucap syukur kepada Tuhan? Dalam Ulangan 16:16b, Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa. Bahwa ibadha itu menjadi sarana bagi kita untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Dan kita tidak boleh datang bergereja dengan tangan hampa.

Kalau hampa tangan kita datang ke Tuhan, maka hampa juga akan kembali. Tidak persoalan ukuran atau besaran. Itu sebabnya setiap persekutuan ibadah, selalu dipungut persembahan kita ini. Supaya gereja itu dapat berjalan dengan baik. Sebagai contoh, Gereja Pentakosta Indonesia wilayah Medan akan melakukan ibadah kebangkitan rohani selama dua hari. Dan mengundang Ephorus MH Siburian, sehingga dibutuhkan biaya dan disyaratkan agar setiap sidang menyerahkan bantuan dana. Dan gereja ini diminta Rp700 ribu. Dari mana uang ini jika bukan dari persembahan. Itulah salah satu fungsi persembahan itu.

Kalau bagi Tuhan, saya boleh katakana kepada Saudara, Tuhan tidak mementingkan apa yang saudara persembahkan itu. Dia kaya, segala sesuatu Dia punya. Apa yang kita lakukan ini adlaah untuk kebaikan kita bersama. Itu sebabnya Tuhan mengatakan jangan datang kepada Tuhan dengan tangan  hampa.

Di Mazmur 4:6, Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada Tuhan. Sedikit atau banyak, kita harus percaya bahwa Tuhan akan melipat gandakan itu untuk kebutuhan kita. Terlebih melihat kondisi fisik gereja. Saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa jemaat disini adalah orang-orang yang mau berkorban kepada Tuhan. Saudara sudah memahami, gereja kita mulai dari nol. Saya melihat selama ini, saudara selama ini suka memberi kepada Tuhan. Jika kita suka memberikan kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan berlipat-lipat ganda kepada kita.

Itulah alasan yang kelima, untuk membawa ucapan syukur kepada Tuhan. Apakah mungkin kita berikan persembahan berupa uang kepada Tuhan dengan mengacungkannya ke angkasa sana? Tentu ada sarana, saya kagum saudara terkasih, ketika saya pergi ke Panti Asuhan di Johor sana, saya melihat buku tamunya. Prof Dr Jabbar Siddik MA, padahal panti asuhan itu adalah milik Katolik, tetapi daftar penyumbang dari Muslim pun banyak. Saya kagum, luar biasa orang ini. Dia mau memberi kepada Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, persembahkanlah persembahan yang benar.

Amsal 3:9-10, Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama  dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. Saya ingat waktu masih kecil, saat panen raya maka akan dipanggil para hamba Tuhan untuk mendoakan hasil panen. Dengan demikian, seilaturahmi juga akan terjadi dengan demikian. Dulu, tidak ada istilah kelaparan meski panen padi sekali dalam satu tahun.

Perhatikan firman Tuhan, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. Saya berfikir bahkan seperti ini, secara khusus untuk kaum ibu. Ketika ibu mau menanak beras, maka ambil segenggam dari bagian yang akan di masak dan simpan dalam satu tempat tertentu. Lakukanlah itu setiap hendak memasak. Maka akan terkumpul, dan kita bawa ke gereja untuk kita sumbangkan ke panti asuhan. Sederhana, namun cukup bermakna. Demikian juga dengan kaum bapak, ketika duduk di kedai kopi, sisihkanlah sebagian dari uang kopimu untuk persembahan mu. Demikian juga halnya dengan mereka yang masih merokok, ambillah persepuluhanmu dari jumlah uang yang engkau belanjakan untuk rokok itu.
Bisa juga diperuntukkan untuk menolong sudaramu di gereja ini. Jika ada yang membutuhkan, lihat dan berikan itu. Puji Tuhan…


Kamis, 30 Juli 2015

Pejuang ISIS Bertobat Setelah TUHAN Menolaknya Memasuki Gerbang Surga.

Seorang jihadis ISIS baru-baru ini bertobat menjadi Kristen setelah ditinggalkan hampir mati dekat perbatasan Timur Suriah, dimana ia akhirnya diselamatkan oleh para missioanaris Kristen yang ada di wilayah itu. demikian laporan The Aleppo Herald pagi ini.

Pria ini, yang secara ajaib selamat dari rentetan senjata api, menderita luka yang cukup parah setelah terjadi pertempuran antara ISIS dan pasukan Suriah, diselamatkan oleh anggota Santo Dominika Presbytery Katolik Ayyash, berjam-jam setelah pertempuran itu meletus.

Anggota organisasi Kristen itu ingin menguburkan pria ini secara Kristen. Mereka membawanya sejauh 26 kilometer sebelum pria ini secara ajaib hidup kembali setelah sebelumnya para missionaris ini meyakini kalau pria ini sudah tewas.

Setelah pria ini sadar kembali, ia melaporkan pada pastur Hermann Groschlin tentang penglihatan-penglihatan yang ia saksikan di kehidupan setelah kematian, sebuah peristiwa yang pada akhirnya merubah pandangan jihadis berusia 32 tahun ini,

“Ia mengatakan padaku bahwa ia selalu berpikir bahwa dengan mati sebagai seorang martir, maka pintu Jannah atau pintu Surga akan terbuka baginya”, demikian kata pastur ini. Tetapi sementara ia mulai naik ke atas, yaitu menuju terang Surgawi, maka mahluk-mahluk yang jahat atau yang mereka namakan Jinn, muncul dan membawanya ke lubang neraka yang sangat mengerikan. Disana ia harus merasakan kesakitan yang ia perbuat pada orang lain, dan juga kematian yang ia akibatkan di seluruh hidupnya. Ia juga harus merasakan penderitaan hebat yang dialami oleh para korbannya, melalui mata mereka. Bayangan-bayangan dari klaim para jihadis akan menghantuinya di sepanjang hidupnya, demikian kata sang pastur.

“Kemudian TUHAN, berbicara padanya dan memberitahu dia bahwa sebagai jiwa manusia ia sudah gagal, dan bahwa ia akan dilarang untuk memasuki Gerbang Surga jika ia memilih untuk mati. Tetapi jika ia memilih untuk hidup kembali, maka ia akan diberi kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosanya dan diijinkan untuk sekali lagi mengikuti Jalan Tuhan yang benar.”

Pria muda ini mengklaim bahwa ia dihidupkan kembali beberapa saat kemudian dan beberapa hari kemudian ia menjadi Kristen, dengan keyakinan bahwa ia telah disesatkan melalui kehidupan religiusnya dibawah penyembahan kepada ALLAH.

Pria muda ini, yang secara mengejutkan luka-luka yang ia alami sembuh dalam waktu singkat, telah memilih untuk hidup diantara para anggota jemaat Katolik itu, yang telah menyelamatkannya dari padang gurun dan berharap kisahnya akan. menolong para pejuang ISIS untuk merubah jalan mereka dan berpaling pada satu-satunya TUHAN yang sejati dan benar.
( Rendy Line Heart ).

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=957047581003668&set=gm.404743413058668&type=1&theater

Kamis, 30 April 2015

Penderitaan Mu Tak Sekuat Kuasa Tuhan

Suatu kesaksian yang mengharu-biru dari Pdt Samuel Irwan. (100% Kisah Nyata)
sumber : http://kisahnyatadankesaksiankristen.blogspot.com/…/suatu-k…

Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.
(Mazmur 6:7)

Yaah…. air mata identik dengan masalah, kesesakan dan kesedihan hati.
Kita sering mengasosiasikan orang yang sedang menangis sebagai orang yang sedang menderita, walaupun ada juga air mata bahagia…, karena saking terharunya atas suatu peristiwa yang membahagiakan hati.
Tapi memang lebih banyak air mata keluar dikarenakan penderitaan.

Bani Korah menuliskan mazmur yang menunjukkan kesesakan hatinya,
Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku, “Di mana Allahmu?”
(Mazmur 42:4a)
sampai-sampai air mata terus mengalir tiada henti-hentinya…
Masyarakat sering menganggap orang yang mudah menangis adalah orang yang lemah hati, bahkan ada ajaran tak tertulis “Anak laki-laki sejak kecil harus diajarkan tidak boleh menunjukkan air matanya di depan orang lain”, karena terkesan lemah dan tidak jantan…

Sampai suatu hari untuk pertama kalinya…. yaaah untuk pertama kalinya saya menyadari, ‘betapa beruntungnya saya masih punya air mata’.
Betapa beruntungnya teman-teman , karena teman-teman masih bisa menangis…..
A MAN WITHOUT TEARS

Suatu kesaksian yang mengharu-biru dari Pdt Samuel Irwan.
Beliau pernah terkena penyakit kulit maha dahsyat yang sekarang meninggalkan jejak di matanya. Tidak bisa menangis lagi karena kelenjar air matanya sudah mampet akibat penyakit yang dialaminya.
Melihat penampilan beliau ketika berkotbah, sepintas tidak ada perbedaan dengan orang lain pada umumnya, kecuali mata yang kelihatan agak basah …

Menelusuri kesaksiaannya, jelas sekali panggilan beliau adalah sebagai hamba Tuhan.
Samuel Irwan, sejak umur 14 tahun sudah melayani Tuhan, dan setahun kemudian sudah menjadi pengkhotbah cilik. Setamat SMA, Samuel Irwan melanjutkan pendidikan di Sekolah Theologia STT Tawangmangu.
Di sekolah inilah Samuel Irwan mengalami pembentukan karakter lebih lagi, dan sebelum lulus Samuel Irwan bernazar, kelak akan melayani Tuhan sepenuh waktu, di manapun Tuhan akan mengutus dan menempatkannya.
TEMPAT MULAI MENJALANI NAZAR

Setelah lulus dari STT Tawangmangu, tahun 1993 Samuel Irwan menjalani masa praktek dan ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas, Samarinda, Kalimantan Timur.
Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Semua dijalani dengan sukacita dan penuh semangat walaupun harus meninggalkan kehidupan nyaman di Surabaya dan menjalani kehidupan yang berat di Kalimantan dengan persembahan kasih yang sangat kecil.
Hanya Rp 80.000 per bulan.
Tinggal di rumah yang sangat sederhana, banyak tikus berkeliaran, mengepel rumah, mencuci pakaian dan piring di parit, membersihkan gereja, melayani sebagai pengerja di gereja adalah kegiatan yang dijalaninya hari demi hari. Tidak terasa sudah dijalani selama 2 tahun.
MERALAT NAZAR

“Bagaimana saya bisa berumah tangga dengan kehidupan ekonomi yang minim seperti ini?
Mana ada yang mau jadi istri saya?
Mana ada orang tua yang mau memberikan anak perempuannya kepada saya?
Bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya?”

Berbagai pertanyaan dan keluhan mulai menyesakkan hatinya di tengah-tengah kerinduan untuk mulai membina rumah tangga. Dan hatinya memang sudah mulai terpaut dengan seorang gadis cantik yang dikenalnya di pertandingan vocal group di sebuah gereja di Samarinda.
Samuel Irwan mulai memikirkan untuk tidak lagi menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Apalagi banyak testi anak-anak Tuhan yang sukses dalam pekerjaan tapi juga tetap setia melayani Tuhan, membuat ia memutuskan berhenti jadi fulltimer dan mulai melamar pekerjaan sekuler.
Ketika gembala sidang bertanya tentang nazarnya, Samuel Irwan berkata,“Saya meralat nazar saya.”
Airmata dan perkataan gembala sidang, “Gereja memang nggak bisa memberikan gaji besar, tapi Tuhan mampu pelihara hidupmu…..” tidak mampu menghentikan tekad Samuel Irwan untuk berhenti jadi fulltimergereja.

Berbekal ijazah SMA, kemampuan komputer dan Inggris, tahun 1995, Samuel Irwan diterima bekerja di sebuah perusahaan kayu. Benar-benar mulai dari posisi bawah , hanya sebagai operator radio.
Karena keuletannya dalam bekerja dan kemampuannya di bidang komputer, hanya dalam waktu 5 bulan ia diangkat menjadi kepala produksi log di perusahaan kayu itu.
Berkat finansial mulai mengalir dengan deras sehingga bisa mengontrak rumah, membeli perabotan, sepeda motor membuatnya yakin berada di trackyang benar.

Menikah dengan Erna S. Tjandra, di tahun 1996 dan dikaruniakan seorang putri setahun berikutnya membuat kebahagiannya semakin lengkap. Kedudukan tinggi di perusahaan, punya istri, anak, rumah, kendaraan.
What else could make him happier?
Kalau dulu saat ingin bekerja di dunia sekuler, Samuel Irwan berkata kepada Tuhan, akan melayani Tuhan sambil bekerja, sekarang keinginan melayani sudah tidak prioritas lagi.
Peringatan dari hamba-hamba Tuhan yang mengingatkan akan nazarnya tidak diindahkan.
Sampai…….
STEVENS-JOHNSON SYNDROM (SJS)

2 Januari 1998, Samuel Irwan merasakan keluhan masuk angin, demam, tenggorokan sakit dan mata merah. Sepertinya sakit biasa. Berobat ke dokter mata, dan diberikan paracetamol untuk menurunkan demam. Keesokan harinya, ternyata demam tidak kunjung turun juga, malah mulai timbul bintik-bintik merah pada lengannya. Telapak tangan dan kaki terasa sakit dan nyeri jika memegang atau menginjak suatu benda keras.

Berinisiatif sendiri untuk pergi ke dokter umum dan diresepkan obat pembunuh virus Zoter 400mg karena menurut diagnosa dokter ia terkena infeksi virus ditambah dengan obat penurun panas. Samuel tidak menceritakan kepada dokter umum itu bahwa ia juga diberi beberapa jenis obat oleh dokter mata. Selain itu ia juga membeli beberapa obat flu bebas dan jamu, apa saja yang menurut pengetahuannya bisa menyembuhkan gejala-gejala yang dialaminya.
Setibanya di rumah, Samuel Irwan meminum semua obat dari kedua dokter tersebut, ditambah obat bebas yang dibeli sendiri, semua dengan dosis yang tertulis, karena ingin cepat sembuh.

Akibatnya sungguh mengerikan karena mencampur sendiri beberapa jenis obat tersebut.
Bintik-bintik merah itu mulai melepuh dan gosong, dan mulai merambat sampai ke dada, tengkuk, leher, muka dan kondisi mata semakin memburuk, semakin merah. Kerongkongan, rongga mulut dan lidah juga melepuh.
Tidak cukup sampai di situ, kondisi ini semakin tambah parah karena di kulit seperti ada air dan nanah yang membusuk.

Dirujuk ke RS di Samarinda, 7 Januari 1998 Samuel Irwan menjalani rawat inap.
Salah seorang anggota tim dokter yang menangani, seorang dokter kulit mengatakan bahwa Samuel Irwan mengidap penyakit Stevens-Johnson Syndrome (SJS) stadium 3.
Kondisi tubuh Samuel Irwan saat itu seperti orang yang terkena luka bakar 80%. Semua bagian tubuh tidak ada yang terluput; melepuh, gosong, dan bernanah, dari kepala sampai ujung kaki, kecuali paha dan betis.
DI BATAS AKHIR KEKUATAN

Samuel Irwan mengingat masa itu, “Kalau sedang tidur dengan posisi miring, dan tidak hati-hati dan pelan-pelan menggerakkan wajah ke posisi lain, maka kulit muka akan tercuil dan lengket di seprei. Pediihhh sekali…..”
Demam juga tidak kunjung turun, sampai 42 derajat Celcius, sehingga kalau sedang menggigil ranjang bergoncang dengan kerasnya seperti sedang gempa bumi. Harus dimasukkan ke ruang isolasi, bukan karena SJS ini adalah penyakit menular, tetapi karena takut penyakit pasien lain menular kepada Samuel Irwan yang dapat memperburuk keadaannya.

Suatu hari mata yang selalu merah itu seperti kelilipan dan Samuel meminta suster untuk menyiram matanya dengan boorwater. Ketika bangun tidur, bukannya jadi baikan, ternyata malah kedua belah mata jadi putih semua, seperti ditutupi kertas HVS putih.
Samuel Irwan sangat marah kepada para dokter dan suster yang merawatnya.
Dan juga sangat marah kepada Tuhan, “Tuhaaaan….. saya butuh mata ini untuk bekerja…..”
Saat di batas akhir kekuatannya, saat mata tidak lagi bisa dipakai untuk melihat, Samuel Irwan minta pengampunan kepada Tuhan.
HE JUST WANTED ME TO TURN BACK TO HIM
Dokter di Samarinda semuanya sudah angkat tangan dan merujuk Samuel Irwan ke rumah sakit di Surabaya. Malam sebelum keberangkatan ke Surabaya, Samuel Irwan menyadari panggilannya kembali.
Ia memanggil gembala sidangnya yang dulu, untuk berdoa minta ampun karena lari dari Tuhan.
Saat itu Samuel Irwan berjanji jika Tuhan masih beri kemurahan untuk hidup maka ia akan melayani Tuhan sepenuhnya kembali.

Dengan bantuan seorang gembala GBI di Samarinda, Samuel Irwan dibawa ke Surabaya.
Kondisi Samuel saat itu tidak bisa berjalan lagi karena kaki juga melepuh.
Saat akan naik tangga pesawat, karena tidak bisa berjalan, seorang portir yang tidak mengetahui penyakitnya, berusaha menolong dengan menggendong Samuel ke kabin pesawat. Gerakan tiba-tiba mengangkat Samuel yang sedang duduk di kursi roda, membuat kulitnya robek tertarik, dan Samuel menjerit keras sekali. Perjalanan yang sangat tidak mudah untuk sebuah harapan kesembuhan.
WALAUPUN TIADA DASAR UNTUK BERHARAP

Tim dokter yang menerima di Surabaya sangat kaget melihat kondisi tubuh Samuel Irwan. Mereka tidak menyangka kondisi Samuel sudah begitu parah sekali.
Sebelumnya mereka pernah menangani pasien yang mengidap sakit SJS ini dengan kondisi hanya sepertiga dari kondisi Samuel. Pasien ini akhirnya meninggal dunia, …. apalagi Samuel?

Saat baju dibuka untuk dirontgen, kulit punggung kembali robek.
Warna yang putih dipunggung adalah daging yang kelihatan akibat kulit tersobek, dan warna merah adalah darah yang keluar.

Detail hasil rontgen: lambung, pankreas, liver, bagian-bagian dalam tubuh, semuanya rusak. Sehingga diperkirakan Samuel hanya bisa bertahan 3 minggu.
Karena sudah menjalani penyakit SJS ini sejak 2 Januari 1998, maka diperkirakan Samuel Irwan hanya bisa bertahan sampai 23 Januari 1998. Sehingga diminta untuk segera menghadirkan istrinya ke Surabaya, membawa anak mereka yang baru berusia 2 bulan.

Seorang dokter kulit lulusan Jerman berkata, kalaupun Samuel bisa sembuh dari penyakit SJS ini, perlu 2 tahun untuk recovery kondisi kulitnya untuk kembali seperti semula.
Dokter mata, yang juga lulusan Jerman berkata, kalaupun sembuh, akan buta selamanya, tidak ada lagi harapan untuk mata Samuel.

Tiada dasar untuk berharap, namun Samuel Irwan tetap berharap kepada Tuhan seperti Abraham dalam kitab Roma,
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
(Roma 4:18-21)
“A VIRTUOUS WOMAN’S PRICE IS FAR ABOVE RUBIES”

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?
Ia lebih berharga dari pada permata.
(Amsal 31:10)

Ayat ini layak ditujukan kepada Erna Tjandra, istri dari Samuel Irwan, yang dengan tekun merawat suaminya. Tidak pernah sekalipun menunjukkan kejijikan kepada suami yang sudah sangat hancur tubuhnya. Dengan kondisi yang sudah sangat berbau busuk dan amis, tidak pernah sekalipun Erna masuk ke ruangan isolasi dengan memakai masker. Tidak pernah sekalipun.
Dengan setia ia merawat borok-borok di tubuh Samuel, menyikat gigi Samuel dengan jari-jarinya, membersihkan kotoran di ranjang, semua dilakukan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum.
Semua dilakukan dengan kasih. She showed us an unconditional love.
Tidak terkira impartasi kekuatan yang diberikannya kepada sang suami yang sedang berjuang melawan maut. Erna berkali-kali menguatkan Samuel untuk tetap berharap kepada Tuhan.
PENDERITAAN TAK BERUJUNG ?

Rutinitas pengobatan Samuel setiap hari juga menjadi rutinitas penderitaannya.
Tubuh yang sudah melepuh, gosong, bernanah itu setiap hari harus diberi salep dan diperban.
Esok paginya perban itu harus diganti. Ketika perban dibuka maka kembali kulitnya sobek dan menempel di perban tsb. Sakit sekali, dan harus dijalani selama 1,5 jam dari pukul 9 pagi sampai 10.30 siang. Setiap hari selama 1,5 jam berteriak-teriak kesakitan. Demikian juga ketika seprei akan diganti. Kembali kulit akan tersobek dan lengket di sprei.

Dukungan dari istri dan pihak keluarga Samuel Irwan sangat besar sekali.
Tak henti-hentinya mereka berdoa puasa rantai memohon kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan Samuel.

Tapi keadaan Samuel bukannya membaik, malah bertambah parah. Ke 20 kuku di jari-jarinya copot satu persatu, telapak tangan dan kaki menggelembung berisi air, telinga dan hidung melepuh mengeluarkan darah. Berat badan turun dari 68 kg menjadi 43 kg. Sistem reproduksi juga diserang sehingga diperkirakan kalaupun sembuh tidak bisa punya keturunan lagi.
Keadaan Samuel bukannya makin sembuh, malah semakin parah.
BERNAZAR LAGI

Samuel kembali berkata, “Tuhan ampuni saya, … kalau saya sembuh, saya akan kembali melayani Engkau sepenuh waktu. Saya akan tinggalkan pekerjaan saya, saya akan bayar nazar saya. Terimalah tubuhku yang sudah busuk ini. Ampuni saya Tuhan….”

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina,
ya Allah.
(Mazmur 51:19)

Kalimat di atas dengan tulus dan hancur hati diucapkan seseorang yang pernah berbuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Tuhan. Dialah Daud. Sejarah mencatat Tuhan memulihkan Daud.
Bagaimana dengan Samuel Irwan?
GOD IS STILL DOING MIRACLE BUSINESS

Banyak orang yang undur imannya saat doa-doanya belum dijawab oleh Tuhan. Tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan, Tuhan sanggup menjawab doa.
Tidak demikian dengan Samuel Irwan, beserta seluruh keluarganya. Juga orang-orang yang setia mendoakannya. Mereka begitu percaya kepada Tuhan dan belas kasihanNya,

Tanggal 23 Januari 1998, tanggal dimana Samuel diperkirakan akan meninggal dunia, justru menjadi titik balik dalam proses kesembuhannya.
Perawat yang seperti biasa tiap pagi merawat kulit Samuel, dikagetkan melihat kulit Samuel mulai mengering dan sembuh.
Kekagetan itu bertambah dengan pertanyaan Samuel, “Suster…., saya ini dirumah sakit Adi Husada Kapasari Surabaya ya ?” Dengan terheran-heran, suster balik bertanya, “Loh….kok bapak tau?”. Lalu Samuel menunjuk dengan jarinya sebuah tulisan berwarna merah yang tertera di sprei kasurnya sambil berkata, ”Ini ada tulisannya”. Suster gembira sekali sambil berlari keluar memanggil dokter mata.

Semua tim dokter yang menangai penyakit SJS ini heran sekali atas apa yang dialami Samuel.
Mata bisa sembuh tanpa operasi. Bagian dalam tubuh seperti ginjal, liver, lambung, dll semua sembuh dan normal kemnali. 2 hari kemudian Samuel sudah bisa berjalan kembali, dan proses recovery berjalan dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai 2 tahun untuk kulit Samuel menjadi normal kembali, dan … sembuh tanpa operasi plastik (!!!)
Penyakit SJS terparah yang pernah ditangani di RS tsb, sembuh total
(bahkan kini Samuel Irwan sudah dikaruniai lagi anak perempuan ke 2, tanggal 31 Mei 1999, hanya setahun sesudah mengalami kesembuhan).
Tuhan Yesus memang luar biasa. DAHSYAT !!!
MENETESKAN ‘TEAR DROPS’. EVERY 15 MINUTES !

Kulit Samuel Irwan menjadi normal kembali. Tidak ada bercak atau tanda sedikitpun yang menyiratkan bahwa ia pernah disiksa oleh penyakit kulit ganas tsb. Kecuali matanya.
Kalaupun dipaksakan untuk mengeluarkan air mata, maka otot kelopak mata atas dan bawah seperti diperas dan terasa sakit sekali. Sehingga mau tidak mau, Samuel harus menggunakan tetes air mata buatan.
Saat berkotbah tiap 15 menit sekali Samuel Irwan meneteskan air mata buatan agar matanya tidak kering dan lengket, tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya melayani Tuhan.
Obat tetes mata yang digunakan saat ini adalah buatan USA “Refresh Liquidgel” berharga $24 per botol, dan habis digunakan dalam 3 hari saja. Belum lagi karena obat ini harus dipesan dari Singapore, maka total biaya untuk pengganti air mata yang harus disediakan perbulan adalah sebesar
Rp 3.000.000,-.
BETAPA MAHALNYA TETESAN AIR MATA !!!

Tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk pengobatan mata dan pengadaan air mata buatan.
Selama 12 tahun tidak punya air mata (tahun 1998-2010), biaya yang dihabiskan sudah sekitar 1,6 Milyar.
Hanya untuk air mata !!!
Itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata, berbahagialah kalau masih bisa menangis.
Pertama, tingkatan stress bisa diturunkan saat menangis, sehingga kita tidak menjadi depresi. Kedua,tidak perlu bayar M-M an untuk air mata.

Jarak pandang yang hanya sekitar 1 meter, membuat Samuel Irwan harus membawa keker (binocular)saat berada di bandara supaya tidak salah memilih gate dan dan membaca no pesawat.

Ada kesaksian yang luar biasa saat Samuel Irwan sedang berada di Changi, Singapura, sedang transit menunggu pesawat ke Jepang dan Amerika.
Seorang polisi India menegur dengan keras mengira Samuel sedang memakai kamera. Dengan tegas ia menegur, “No camera in this airport, sir!”.
Samuel menjelaskan bahwa itu binocular untuk menolong membaca karena matanya tidak bisa membaca jarak jauh.
Singkat cerita, Samuel berusaha meyakinkan polisi India tsb dan memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkannya dari penyakit SJS, sambil menunjukkan foto-foto diri saat menderita SJS yang ada dimobile phone nya. Samuel berkata, “Tuhan menyuruh saya ke Jepang dan Amerika untuk memberitakan kebaikanNya. Apakah Bapak bisa menolong saya menunjukkan meja yang harus saya datangi untuk check-in?”

Apa yang terjadi? Polisi itu menangis.
Ia berkata, “Sebelum saya menolong Anda, Anda harus tolong saya.”
Ternyata sehari sebelumnya polisi ini bertengkar hebat dengan istrinya dan istrinya minta cerai. Anak mereka juga jadi anak berandalan, tidak bisa dikendalikan. Sebuah rumah tangga yang sangat berantakan.
Ia berkata bahwa banyak orang yang menceritakan Yesus sanggup mendamaikan keluarganya, tapi ia pikir semua itu omong kosong.
Dan sambil menyentuh tangan Samuel Irwan, polisi itu berkata, “Ini kulit baru, sungguh ini bukti nyata.” Saat itu juga ia minta dibimbing untuk terima Tuhan Yesus.
Sesudahnya, saat mengantar Samuel Irwan boarding ia berkata, “I never feel peace like this, … thank you.”
Di kursi pesawat, Samuel Irwan merenung…., “Tuhan….kalau memang mata ini bisa membuat orang yang suka mengeluh menjadi bisa bersyukur, bisa membuat orang berdosa diselamatkan…., mata saya tidak disembuhkan tidak apa-apa Tuhan…, karena saya bersyukur mata ini bisa memuliakan Tuhan….”
MENCERITAKAN KEBAIKAN TUHAN

Melalui semua yang dialaminya, Pdt Samuel Irwan sudah pergi ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan melayani sampai ke bangsa-bangsa untuk menceritakan kebaikan Tuhan.
Keterbatasan fisik tidak mampu mengurangi semangatnya yang rindu melayani Tuhan dan memberitakan kepada uamatNya bahwa Tuhan itu baik dan kuasaNya maha dahsyat.

Banyak orang yang dijamah Tuhan dan disembuhkan, bukan hanya orang yang sakit secara fisik, tetapi juga orang yang sehat tapi sudah jauh dari Tuhan. Merasakan kembali kasih Tuhan dan mengambil keputusan untuk kembali kepada Tuhan.
“DALAM KELEMAHANKU, KEKUATANNYA DINYATAKAN”

Pernah suatu ketika obat tetes mata sudah habis, sementara pesanan dari Singapura terlambat datang. Ketika botol itu kosong, terjadi mujizat. Setiap kali diteteskan ke mata, obat tsb masih menetes, walaupun kalau botolnya digoncang tidak ada bunyi apa-apa karena memang sudah kosong.
Botol kosong itu terus meneteskan air mata buatan setiap kali digunakan, sampai pesanan obat baru dari Singapura datang. Ketika kembali diteteskan, botol kosong tsb tidak mengalirkan apa-apa lagi, karena penggantinya sudah datang.

Jarak pandang yang hanya 1 meter tidak memupuskan semangat Samuel Irwan untuk belajar lagi dan menyelesaikan pendidikan S1 Theologia di STT Duta Panisal Jember. Walaupun saat kuliah harus membawa alat bantu seperti binocular dan kaca pembesar agar bisa membaca lebih jelas.
Kegigihannya dan semangat pantang menyerah juga dibuktikan dengan melanjutkan sampai study Magister dibidang Biblical Strata 2, dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Masih belum cukup, seakan berpacu dengan waktu, Samuel Irwan meneruskan study penggembalaan dan penginjilan di Haggai Institute Hawaii USA.
Semua dilakukan dalam segala kelemahan yang dimilikinya. Tapi kekuatan Tuhan yang menopangnya, membuat Samuel Irwan mampu melalui semuanya dengan baik.
GOD IS GOOD. ALL THE TIME.
Berbeda-beda interpretasi orang yang mendengarkan kesaksian bapak Pdt Samuel Irwan Santoso,S.Th,MA, yang sejak tahun 2006 hingga sekarang menggembalakan jemaat di GBI Bontang, Kalimantan Timur.
Tapi yang tertanam di hati saya, adalah :

TUHAN ITU BAIK
Bahkan ketika beliau diijinkan mengidap penyakit SJS, di mata saya itu bukanlah penghukuman karena suatu kesalahan. Tapi cara Tuhan untuk membawa beliau kembali kepada panggilanNya.
Karena besar kemuliaanNya yang akan Dia tunjukkan kepada kita semua melalui pelayanan beliau.

TUHAN ITU BAIK
Tuhan tidak pernah meninggalkan beliau, bahkan saat berjalan dalam lembah bayang-bayang maut.
Terbukti dari biaya pesawat dan pengobatan ke Surabaya, (saat itu harga-harga obat melambung tinggi karena krisis moneter), semuanya ditanggung seorang pengusaha di Samarinda, yang bukanlah orang percaya, tapi digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk memikul beban itu.
Juga biaya air mata buatan yang tidak sedikit selama 12 tahun ini, (Milyar….bo’) yang tidak mungkin sanggup dibeli oleh beliau, semua disediakan Tuhan melalui orang yang berbeda-beda yang digerakkan hatinya oleh Tuhan.

TUHAN ITU BAIK
Kalau teman-teman dan saya diijinkan untuk mendengar atau membaca kesaksian ini, pasti karena Tuhan ingin kita lebih bersyukur lagi menjalani hari-hari yang tidak semakin baik ini.
Kalau sedang menangis di hari-hari ini, bersyukurlah, karena semua air mata kita itu gratis dari Tuhan. Bayangkan kalau kita harus bayar Rp 3 juta per bulan hanya untuk air mata?
Dan sekalipun saat ini kita sedang menangis, Tuhan ingin kita semua tahu, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya.
Melewati lembah bayang-bayang maut sekalipun, kita tidak takut bahaya, karena Tuhan menyertai kita

Zusana Shine
Sena Chan
Fenlie Xie
Vandy Xie

Kamis, 16 April 2015

"Kesaksian"


" YESUS Menunjukkan neraka untuk Orang-orang ini adalah peramal-peramal, pelanggan dari peramal-peramal tersebut, ahli nujum, dukun, dan orang-orang yang bunuh diri.” by : Lee, Haak Sung:

Yesus mengunjungi saya dan mulai menunjukkan saya neraka. Di neraka, saya datang ke suatu tempat di mana satu makhluk iblis sedang duduk di kursi. Dari bentuk tubuh dan perilakunya, kelihatannya makhluk ini sepertinya penguasa di daerah tersebut. Sebuah lubang perangkap berada di depan kaki dari makhluk tersebut. Orang-orang sedang berdiri lubang perangkap tersebut. Ketika makhluk ini menghentakkan kakinya, lubang perangkap tersebut terbuka ke arah bawah dan menyebabkan orang-orang yang berdiri diatasnya jatuh ke lava api. Ketika orang-orang jatuh ke lava api yang mendidih, mereka secara langsung terbakar dan berteriak dengan kesakitan. Saya bertanya kepada Yesus tentang orang-orang ini dan Yesus berkata, “Orang-orang ini adalah peramal-peramal, pelanggan dari peramal-peramal tersebut, ahli nujum, dukun, dan orang-orang yang bunuh diri.” Ketika Yesus berkata tentang orang yang bunuh diri, paman saya, yang melakukan bunuh diri dengan makan banyak pil, terlintas di depan mata saya. Paman saya di tarik ke lubang perangkap dan di buat berdiri di atas lubang perangkap. Makhluk tersebut menarik kakinya ke atas seakan-akan akan menghentakkan kakinya dan melepaskan lubang perangkap tesebut.

Saya memohon belas kasihan kepada Tuhan, “Yesus, tolong, paman saya dalam bahaya. Dia akan jatuh ke lava api. Tolong dia! Tuhan, paman saya selalu baik kepada saya. Paman, ayo datang ke arah saya cepat.” Dengan ekspresi sedih, Yesus berkata, “Haak-Sung, sudah telat. Tidak ada lagi yang bisa di kerjakan.” Tidak lama kemudian, makhluk tersebut menghentakkan kakiknya, dan lubang perangkap terbuka, dan paman saya dengan orang-orang lain jatuh ke dalam lava api. Mereka semua berteriak. Di antara-antara orang-orang tersebut adalah biksu-biksu dari agama buddha, orang-orang kristen yang murtad, dan banyak orang yang pergi ke gereja dengan tujuan dan motivasi yang lain daripada untuk Yesus.

Di bagian lain di neraka, Yesus berkata kepada saya, “Haak-Sung, lihatlah secara seksama” Di sana banyak sekali orang-orang yang di kerumuni oleh ular-ular besar dan kecil. Ular-ular besar dan kecil tersebut mengikat orang-orang. Ular-ular yang besar mengikat sekitar kepala orang-orang tersebut, sedangkan ular-ular yang kecil itu mengikat bagian tubuh orang-orang tersebut. Ular-ular yang kecil tanpa henti-hentinya menggigit orang-orang tersebut. Orang-orang berteriak kesakitan. Saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, dosa apakah yang orang-orang ini lakukan?” Yesus berkata,”Mereka tidak mempunyai iman yang benar di dalam Aku. Mereka tidak pernah percaya kepadaKu dengan hati yang benar. Meskipun mereka klaim percaya kepadaKu, pekerjaan mereka tidak sesuai dengan iman mereka. Mereka tidak stabil dan suka mengambil keputusan dengan tiba-tiba. Kelakuan mereka yang tidak masuk akal mempengaruhi absensi gereja. Mereka tidak pernah lahir baru. Kebanyakan dari mereka mati di dalam kecelakaan dan mereka tidak pernah sepenuhnya bertobat. Haak-Sung, malah kamu mempunyai kepribadian yang tidak stabil. Tetapi bagaimanapun, perjalanan Kristen kamu stabil.”

Di bagian neraka yang lain, saya memperhatikan seorang wanita yang berteriak dengan sangat kencang. “Ini tidak adil! Saya tidak berhak mendapatkan penghukuman ini. Hidup saya di bumi menderita. Saya tidak bisa tahan lagi. Inilah kenapa saya bunuh diri. Bagaimanapun, sakit di neraka tidak bisa saya tanggung lebih dari hidup di bumi. Kenapa kamu mengirimkan aku ke neraka? Ini tidak adil. Saya tidak pernah mendengar kenyataan tentang neraka. Ini tidak adil buat saya disini.” Dia mengulangi perkataan itu terus menerus. Satu roh jahat tertawa dan membalas wanita tersebut, “Aku menipu kamu sampai kamu bunuh diri. Kamu tidak tahu kebenaran. Kamu malah pergi gereja tapi tidak pernah mendengar tentang Surga atau neraka. Aku malah kagum dengan kamu belajar sekarang. Meskipun kamu pergi ke gereja, kamu masih bunuh diri. Maka dari itu, hal itu adil buat kamu disini. Saya lebih pintar dari kamu dan berhasil menipu kamu. Saya punya jiwamu sekarang. Saya akan menunjukkan kamu banyak pelajaran-pelajaran selama-lamanya.” Makhluk ini kemudian menghajar wanita itu tanpa ampun. Teriakan wanita itu dan permintaan belas kasihan tidak di gubris.

Yesus membawa saya ke gereja dan saya melanjutkan doa di dalam Roh. Yesus berkata kepada saya, “Haak-Sung, doa-doamu dari yang kamu panjatkan dari malam sampai pagi hari lebih berhikmat dan berkuasa daripada doa-doamu di siang hari. Maka dari itu, cobalah berdoa lebih di malam hari di bandingkan di siang hari.” Yesus berkata saya untuk melihat lebih dekat ke arahNya. Saya melihat Tuhan memakai mahkota duri di kepalanya dan saya melihat lubang-lubang di tangan-tanganNya dan kakiNya. Darah mengalir dari setiap luka. Saya tetap bertobat dan menangis sebagaimana saya melihat penderitaan Tuhan. Setelah saya selesai berdoa, Tuhan membawa saya ke Surga dan menghapus air mata saya. Saya bisa melihat laut di Surga dimana sangat jernih.


Sumber; facebook Andry Suganda 

Rabu, 01 April 2015

Selamat Atas Peresmian Kantor Sekretariat GPI Medan Sekitarnya


Koordinator Wilayah Gereja Pentakosta Indonesia Medan dan Sekitarnya Pdt Drs JW Panjaitan STh saat akan menggunting pita pertanda dibukanya kantor sekretariat GPI Medan sekitarnya yang beralamat di Jl Pasar II, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Rabu (1/4/2015). Disaksikan pengurus wilayah GPI Medan, Hamba Tuhan, gembala sidang, dan jemaat.

Gembala Sidang, Hamba Tuhan, dan seluruh jemaat GPI sidang Pasar IV Namorambe mengucapkan Selamat dan Sukses..... Tuhan Yesus memberkati.

HALELUYA.......

Selasa, 24 Maret 2015

Berkorban Itu Indah

Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa kabar daun hijau!!!” katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang.

“Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?” tanya daun hijau.

“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?” kata ulat kecil.

“Tentu … tentu … mendekatlah ke mari.”

Daun hijau berpikir, jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan belobang-lobang, tapi tak apalah.

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana sini, namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai “hati” bagi sesamanya.

Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong.

Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah..

Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang, namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik: kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban.

Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini.

Admin


Dikutip dari:
http://renungan-harian.com/category/cerita-inspiratif/berkorban-itu-indah

Tuhan Dan Laba-Laba

Pada saat Perang Dunia ke 2, ada seorang tentara Amerika yang terpisah dari unitnya di sebuah pulau di Pasifik. Karena pertempuran sangat gencar penuh asap dan tembakan, dia terpisah dari rekan-rekannya.

Sementara dia sendirian di dalam hutan, dia mendengar tentara musuh mulai mendekati tempat persembunyiannya. Berusaha untuk bersembunyi, dia mulai naik ke sebuah bukit dan menemukan beberapa gua di sana. Secara cepat dia merangkak masuk ke dalam salah satu gua. Dia merasa aman untuk sementara, namun dia menyadari jika tentara musuh melihatnya merayap ke atas bukit, mereka pasti akan segera memeriksa semua gua dan membunuhnya.

Dalam gua itu, dia mulai berdoa kepada Tuhan,” Tuhan, jika ini kehendak-Mu, tolong lindungi aku. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai-Mu dan mempercayai-Mu. Amin.”

Setelah berdoa, dia bertiarap dan mulai mendengar tentara musuh mulai mendekatinya. Dia mulai berpikir,”Baiklah, aku kira Tuhan tidak akan menolongku dari situasi ini.” Kemudian dia melihat seekor laba-laba mulai membangun jaring di depan gua persembunyiannya. Sementara dia mengawasi dan mendengar tentara musuh yang sedang mencarinya, lala-laba itu terus membentangkan benang-benang jaring di pintu masuk gua.

Dia terkejut dan berpikir,” Yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah tembok pertahanan, mengapa Tuhan malah memberi sebuah jaring laba-laba. Pasti Tuhan sedang bercanda.” Dari kegelapan gua, dia melihat musuh mulai mendekat dan memeriksa setiap gua. Dia bersiap-siap untuk melakukan perlawanan terakhirnya, namun ada yang membuatnya heran karena tentara musuh hanya melihat sekilas ke arah gua persembunyiannya setelah itu mereka pergi begitu saja.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa ternyata jaring laba-laba yang ada di pintu gua telah membuat gua itu terlihat seperti belum ada seseorang yang memasukinya. Karena kejadian itu, dia berdoa dan minta ampun kepada Tuhan karena sudah meragukan pertolongan Tuhan.” Tuhan, ampunilah aku. Aku lupa bahwa di dalam Engkau, jaring laba-laba menjadi lebih kuat dari dinding beton.”

Dalam hidup ini pun kita sering menganggap bahwa Tuhan harus menyediakan hal yang besar dan dasyat untuk menolong hidup kita. Tetapi kita sering lupa bahwa di dalam Tuhan hal yang kecil dan remeh bisa dipakai untuk menolong kita. “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (1 Korintus 1:25)

Admin

dikutip dari
http://renungan-harian.com/cerita-rohani-kristiani-tuhan-dan-laba-laba

Minggu, 01 Maret 2015

Tar Songon Bunga Natubu di Ladang

Tar songon bunga na tubu di ladang i
Mansai hussus uli rupanai..
Bornok bulung nai, disorop ombun i manogoti
Hape malos do di hos ni ari i,
Tudos tu si do ngolukki


Molo dung suda muse gogoki
Jala dung suda muse bohalhi
Sairihon au tuhan, ondihon au Tuhan, sai ingot au Tuhan

Boan au Tuhan, tu lambung mi
Togihon ahu Tuhan, boan au tuhan

Reff:

Tuhan ondihon au
Tuhan..... Sarihon au
Sai togu-togu au Tuhan tu lambung mi
Jala unang loas au manimbil dalan mi

O Tuhan...... O......Tuhan...

Kejahatan Manusia

Pdt J Hutabalian, STh (Gembala Sidang GPI Sidang Coklat Medan)

Kejadian 6: 1-8

"Kejahatan Manusia"
6:1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi,   dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
6:3 Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."
6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6:6 maka menyesallah TUHAN , bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
6:7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. "
6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.


Kiranya roh kejahatan jangan berkuasa dalam hidup kita. Sebab, jika roh kejahatan ada dalam diri kita justru membuat kita memelihara 3 hal yang melukai hati Tuhan, yaitu;

1. Dosa mementingkan diri sendiri/mengasihi dirinya sendiri tanpa menyertakan Tuhan dalam hidupnya.

2. Dosa bersekutu dengan dunia/penyembah terhadap berhala (1 Yohannes 2: 16-17, Ulangan 7:5)

3. Hati yang penuh dengan kejahatan/ orang yang tidak pernah berubah dan selalu berada dalam lingkupan dosa.

Ingatlah burung-burung di ladang yang tidak pernah menanam, tidak mengumpul dan tidak memiliki lumbung persediaan, tetapi Allah di surga tetap memelihara dan memperhatikannya. Sebab, upahmu besar ketika percaya.

Apapun masalahmu, tetaplah Tuhan sebagai pembelamu.

Heleluya...


:::::Disampaikan saat ibadah raya Minggu di GPI Namorambe, Minggu 22 Februari 2015.

Minggu, 01 Februari 2015

Jangan Takut Gagal



Oleh: St M. Sitorus, Sidang Jl Cemara


Dalam kitab, Amsal 19:21-22 “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana. Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong”


Mungkin firman Tuhan ini sudah sering kita dengarkan, atau sudah berkali-kali bahkan beratus kali diajarkan di dalam kehidupan kita. Tetapi pada saat ini, kembali mengingatkan kehidupan kita yang mana dikatakan dalam firman Tuhan, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana”.

Disana saya berikan dalam perikop Jangan Pernah Takut Gagal. Manusia mempunyai manajemen di dalam kehidupannya, manusia mempunyai prinsip di dalam kehidupannya. Untuk melakukan masa depan yang terbaik bagi kehidupannya dan juga bagi keluarga dan anaknya.

Maka semuanya itu, akan dibentuk suatu manajemen supaya apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan itu tidak mengalami kehancuran atau bangkrut total. Setiap kehidupan kita, ketika kita menjalani pendidikan, setelah selesai menjalani pendidikan, masuk ke perguruan tinggi, dan setelah berkeluarga. Setiap manusia itu selalu membentuk manajemen-manajemen itu supaya impiannya bisa tercapai.

Tetapi terkadang manusia, ketika kegagalan datang menghampiri kehidupannya. Ketika ia menyusun begitu baik itu manajemen di dalam kehidupannya, begitu luar biasanya bahwa itu tidak pernah lagi goyah. Dengan orientasi apa yang dilakukan untuk menjadikan keluarganya tidak pernah hancur.

Ketika dia mengalami kehancuran itu, kegagalan itu, apa yang terjadi saudara?

Ketakutan yang luar biasa, ketika manusia dihinggapi ketakutan yang takut akan kegagalan. Akan terjadi dalam diri kita kemalasan. Losok nama na ro, nga gagal manajemen. Malas ma marminggu, malas beribadah kepada Tuhan,

Gagal rencana. Padahal dia bergebu-gebu. Saya berpendidikan bahkan sarjana, gagal. Apa bedanya dengan si anu, apa bedanya dengan yang lain. Kok saya tidak bisa berhasil, padahal sama-sama makan nasi nya, tapi tidak berhasil, katanya. Paling tinggi juga dia makan daging, hape au gulamo.

Setiap orang itu tidak pernah mau dalam kegagalan, dalam bentuk apapun juga. Ketika mau buka usaha, apakah itu dagang yang mau kita lakukan, kita tidak mau jatuh bangkrut, karena apa? Yang kita pikirkan pertama ialah modal, yang kedua yaitu masa depan untuk anak kita, dan yang ketiga yaitu rasa malu.

Ketika usaha kita itu di dalam puncaknya, terkadang manusia tidak pernah menyadari akan kesombongan dalam dirinya. Keangkuhan hidupnya, maka terjadilah kehancuran. Apa yang dialami kehidupan anak tidak dikontrol, banyak yang tidak berjalan sesuai dengan manajemen kita.

Semuanya berantakan, tetapi firman Tuhan mengatakan rasul paulus mengatakan kepada jemaat yang mengalami kedinginan iman. Apa yang dilakukan tidak pernah berhasil, apa yang dikwatirkan, Fillipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Itulah satu manajemen yang kita lakukan dalam kehidupan kita, apapun aktivitas, apapun pekerjaan kita, itu tidak lepas daripada rencana Tuhan, campur tangan Tuhan.

Saat sudara bekerja, jika Tuhan tidak campur tangan, meski kita bekerja dari subuh sekali sampai larut malam, sama dengan nol. Jika Tuhan tidak berkehendak, maka sia-sialah apa pun yang kita kerjakan.

Maka Rasul Paulus mengingatkan kita, apapun yang kita lakukan, apapun yang kita kerjakan tetaplah senantiasa dalam doa dan mengucap syukur.

Karena Dialah damai, Dialah setiap perencanaan kita. Di dalam kehidupan kita, ketika melakukan perencanaan.

Sebagai orang percaya kita tidak perlu takut akan kegagalan, yang akan menghantui kehidupan kita. Baik daripada pemuda-pemudi, ketika mengikuti pendidikan, arahkan hidupmu berserah kepada Tuhan, maka Tuhan akan bertindak.

Dan saudara akan senantiasa menjadi kepala, bukan jadi ekor. Tuhan mau kita menjadi kepada bukan menjadi ekor.

Oleh sebab itu, setiap perencanaan, setiap anggaran, itu semua dasarnya senantiasa libatkan Tuhan.

Ketika persoalan itu datang, masalah itu datang, terkadang kita sering dalam kehidupan kita ketakutan yang luar biasa. Menyatakan dalam kehidupan kita, saya tidak mau lagi melakukan pekerjaan itu, saya sudah pernah melakukan pekerjaan itu tetapi gagal.

Saya sebagai pekerja bangunan, hanya akan mendapat kesempatan mendapat uang jika ada orang yang memberikan pekerjaan kepada saya. Ketika Tuhan berkarya dalam kehidupan saya, pernah saya lupa bersyukur, bahwa itu semua adalah berkat Tuhan. Manajemen yang saya lakukan itu akhirnya hancur lebur.

Apa yang diberikan Tuhan dalam kehidupan manusia itu, dapat dimanfaatkan. Tapi terkadang manusia itu lupa, akan berkat yang dia terima. 

Saat manusia lupa bersyukur, itulah yang pernah saya alami. Suatu penyakit ada dalam tubuh istri saya, yang harus diangkat dengan biaya yang tidak sedikit. Penyakit kista di rahimnya. Sebesar telor angsa kangker yang ada dalam rahim istri saya. Saya bersyukur pada akhirnya bisa ditolong.

Saya menyerah, saya minta ampun, ketika Tuhan pulihkan keadaan, ketika Tuhan berkarya dalam kehidupan orang percaya. 

Jadi saya berkata kepada istri, kalau ada rezekiku berapa pun itu saya akan serahkan kepada Tuhan. Karena apun itu, berkat itu berasal dari Tuhan.

Apa yang kita terima dan peroleh semuanya itu, asalnya dari Allah. Demikian juga berkat dalam keluarga Bapak Mangunsong, bapak ini bersaksi di dalam gereja ini dimana di dalam kehidupannya itu senantiasa bermain-main. Tidak memberikan waktu kepada Tuhan, ketika dia berkeluarga ketika Tuhan memberkati mereka. Ketika Tuhan memberikan pekerjaan baginya, dia tidak pernah mengucap syukur. 

Dan apa yang terjadi, keluarganya hancur berantakan, anaknya selalu bertingkah berbeda dengan orang yang percaya akan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh lingkungan itu, itu yang dilakukan oleh anak itu. Tidak mau mendengarkan ajaran orangtuanya, tidak mau mendengarkan nasehat orangtuanya.

Pekerjaan bapak ini pun diputus. Dan apa yang terjadi, dia terlunta-lunta, kesana kemari mencari pekerjaan tak kunjung dapat. 

Jadi istrinya sudah gelisah, dan dalam hatinya berkata jika hanya dirinya yang membiayai anaknya maka tidak akan cukup tenaganya. Tetapi dia terpikir, untuk memelihara ternak babi. Dan dia menyampaikan kepada suaminya, namun suami menanyakan bagaimana cara melakukannya kepada istrinya. Bahkan suami menyerahkan kepada sang istri untuk melakukannya.

Tetapi istri mencontohkan untuk membuat ilustrasi. Bahkan ibu ini mendapat tawaran dari tetangganya untuk memelihara ternak babi. Dan suaminyalah yang mengurus ternak, sang istri bekerja ke tempat lain. Karena kalau suami ke kedai, hanya maslah yang dapat.

Namun dalam prosesnya, jika ternak ini beranak dua, maka menjadi bagiannya satu ekor, dan satu untuk uTuhan. Jadi jika tiga anaknya, dua di Tuhan, dan satu untuk mereka. Jika empat, maka dua untuk Tuhan dan dua untuk mereka.

Kemudian, ternak ini beranak dua. Setelah tiba waktunya, istri menanyakan kepada suami,sembari mengingatkan janji ucapan syukurnya. Jika dua anak ternak, satu untuk Tuhan dan satu untuk mereka.

Namun sang suami mengatakan, tunggu dulu, biarlah lebih besar sedikit lagi. Namun ada perbedaan dalam anak ternak ini, satu gemuk dan satu lebih kurus. Kemudian yang kurus dipacu memberikan makanan, dan justru terbalik yang tadinya gemuk menjadi kurus.

Suatu ketika, anak ternak ini sama-sama gemuk. Dan suami pun berpikir, jika dia memberikan ke Tuhan, sayang sekal. Padahal saya sudah capek mencari makannya. Ada kecemasan dalam hidupnya.

Satu hari, ternak justru mati satu ekor. Dan istri sedang sibuk di rumah, “ma, ma, sudah mati ternak Tuhan kita itu”. Apakah ini layak kita lakukan, menghianati Tuhan? Hanyalah persembahan yang layak untuk Tuhan.
Setiap aktivitas kita, Tuhan tidak akan pernah lepas. 

Setiap orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan, maka dia akan beroleh kelegaan dan kemenangan. Tidak akan memperoleh kesia-siaan dalam hidupnya. Dan beroleh hidup yang kekal.

Maka ketika persoalan itu ada dalam hidup kita, jangan kita menanamkan dalam diri kita bahwa Tuhan telah meninggalkan kita.

Tetapi itulah pengujian di dalam kehidupan kita, bagaimana kita mengerti. Sampai dimana kita tahan uji, sampai dimana kualitas kita di dalam kehidupan ini.

Tidak ada jauh bedanya dengan kita menjalani pendidikan di sekolah, setiap hari-setiap hari apa maksud Tuhan di dalam kehidupan kita. Jika setiap hari kita renungkan dan pahami maksud firman Tuhan, maka setiap kita dibaharui.

Persoalan apapun itu, masalah apapun itu, jikalau kita meletakkan dalam tangan pengasihan Tuhan, maka itu akan selesai. Yang terjadi kegembiraan yang akan kita peroleh. Jikalau kita mendengarkan perkataan Tuhan maka kita akan memperoleh yaitu janji damai sejahtera yang mengalir seperti sungai, seperti lautan yang tidak putus memberkati hidup kita.

Karena firman Tuhan mengatakan, agar kita tidak menduakan Tuhan dalam kehidupan kita. Setiap orang yang tidak memiliki perencanaan dalam kehidupan kita, adanya kecemasan dalam hidup kita.

Saya yakin dan percaya, jemaat di namorambe akan disertai Tuhan. Prinsip, kita hidup bukan untuk kita tetapi untuk Tuhan, kita dipilih bukan untuk dunia, tetapi untuk Tuhan. Mari kita senantiasa berkarya dalam memuji Tuhan. Agar Tuhan senantiasa memenuhi lumbung-lumbung kita.



AMIN..

::: Disampaikan saat ibadah raya Minggu di GPI Sidang pasar IV Namorambe 10 Agustus 2014.

Kamis, 29 Januari 2015

Berkat-berkat Orang yang Mendengarkan Firman Tuhan



Oleh: St. J Nainggolan, MPdk
Nats Amsal 8: 32-36
"Amsal 8:32 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah  aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.  8:33 Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya. 8:34 Berbahagialah orang yang mendengarkan  daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku. 8:35 Karena siapa mendapatkan aku, j  mendapatkan hidup,  dan TUHAN berkenan akan dia. 8:36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya;  semua orang yang membenci aku, mencintai maut."


Amsal 8:32 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah  aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.  
Ahir-akhir ini, kerap kita lebih bangga disebut sebagai anak pejabat daripada sebagai anak Tuhan. Dalam nats ini jelas disebutkan, untuk menjadi anak Tuhan harus memenuhi dua syarat. Yaitu:
1.      Mendengarkan Firman Tuhan
2.      Merespon dari apa yang disampaikan oleh firman Tuhan
Anak Tuhan itu sangat sederhana, hanya diminta siap mendengar, membaca, melakukan dan meresponi Firman Tuhan.
Akhir-akhir ini, akan sulit bagi kita untuk mencintai firman Tuhan. Bahkan, anak Tuhan saat ini hanya membaca firman Tuhan tiga kali dalam seminggu. Yang pertama saat ibadah hari Minggu, Ibadah tengah minggu (ibadah keluarga), dan kemudian ibadah STM.
Paling, jika dalam keadaan sakit, maka semakin rajin membaca firman.

Amsal 8:33 Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya.
Dalam nats ini, menggambarkan orang yang tidak mamu main-main dengan Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh memberikan dirinya kepada Tuhan.
Jika kita sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka kita akan berkata “dunia ini hanya sementara”. Tidak ada yang terlena dengan kesibukan duniawi.
Akan timbul komitmen untuk mempelajari firman, dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk itu, kita jangan terlalu banyak meminta namun tidak pernah meminta hikmat dalam menjalani kehidupan ini.
Salomo saja tidak pernah meminta berkat, minta umur panjang, tetapi dia minta hikmat.

Amsal 8:34 Berbahagialah orang yang mendengarkan  daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku.
                  Digambarkan sebagai orang yang selalu senang dengan persekutuan, memuji Tuhan. Dan orang-orang yang berbahagia adalah orang yang mendengarkan firman Tuhan.
Jika kita sudah hidup dalam firman, penyakit apapun bisa kita kalahkan.        
          
Amsal 8:35 Karena siapa mendapatkan aku,   mendapatkan hidup,  dan TUHAN berkenan akan dia.
                  Kita diharapkan hidup dalam damai sejahtera, dengan mendapatkan Tuhan melalui Firman. Jika kondiis ini ada dalam kehidupan kita, akan tercipta kebahagiaan. Walaupun tidak dengan materi kita selalu bahagia dan ada damai dalam rumah tangga.

Amsal 8:36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya;  semua orang yang membenci aku, mencintai maut.

                  Tuhan memberikan pilihan kepada kita, ikut Tuhan Yesus atau tinggalkan Tuhan Yesus. Tetap hidup di dalam tuhan atau hidup didalam kuasa setan.

                  Jika engkau hidup dalam Tuhan, maka hidupmu akan diberkati.

                  Memilih hidup dalam Kristus, harus terlebih dahulu melepaskan kemalasan. Karena dengan kemalasan, semua akan terbengkalai. Akan gagal menjadi anak Tuhan jika ada kemalasan.       
                  Masalah ekonomi adalah perkara kecil bagi Tuhan. Orang mati saja bisa dibangkitkanNYA. Percayalah!!! Amen.

NB: Kotbah di kebaktian tengah minggu di rumah Keluarga D Bukit/ Br Simbolon, Rabu (28/1)