Visi
Tuhan Yesus berfirman dalam Matius 5: 13-14 “Kamu
adalah garam dunia” ,, kamu adalah terang dunia’. Dalam hal ini Tuhan Yesus
menekankan suatu identitas gereja sebagai garam dan terang dunia sekaligus
gereja mempunyai tangung jawab di dalam panggilannya.
Selanjutnya Tuhan Yesus menyampaikan perkataan-Nya
dalam Matius 28 : 19-20 yang dikenal dengan Amanat Agung Tuhan Yesus “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.
Dari firman Tuhan Yesus di atas dapat dilihat suatu
penekanan tentang aktivitas orang percaya, kata “Pergilah, jadikanlah, ajarlah,
babtislah”, kata-kata ini berbentuk kata kerja bentuk aktif ditambah lagi
dengan perkataan “Kuperintahkan” oleh sebab itu dalam Amanat Agung ini jelaslah
bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana bagi gereja-Nya agar gereja tersebut tidak
menjadi gereja yang pasif tapi menjadi gereja yang aktif (hidup) yaitu gereja
yang mempunyai kegiatan berdasarkan tanggung jawab dan yang meresponi panggilan
Tuhan untuk melaksanakannya.
Misi
Adatiga hal tujuan Yesus memanggil gereja yaitu:
1. Gereja
bersekutu (koinonia)
2. Gereja
bersaksi (marturia)
3. Gereja
melayani (diakonia)
1)
Gereja
Bersekutu (koinonia)
Persekutuan berhubungan erat dengan gereja yang
memuliakan Allah. “Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga
telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7) kalau orang Kristen
hidup bersama dalam persekutuan sejati berarti : Allah dimegahkan.
Koinonia pada dasarnya berarti sama-sama menerima
bagian satu dengan yang lain tanpa melihat latar belakang sebagai perbedaan
yang ada. Bahkan perbedaan yang ada harus dipergunakan untuk memperkaya kazanah
bukan sebaliknya. Tuhan Yesus memanggil para murid dari latar belakang yang
berbeda, ada pekerjaannya nelayan, pemungut cukai, dan nasionalis (kaum zelot)
(Matius 4: 18-21, Lukas 6: 12-16).
Jemaat mula-mula sebagai persekutuan umat Allah
sangat merasakan kuatnya persekutuan, mereka melakukan atas dasar iman yang
sama. Persekutuan yang mereka lakukan dibangun atas dasar kasih (agape) dan
dialaskan pada partisipasi bersama dalam kehidupan Allah. “Apa yang telah kami
lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya
kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah
persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. dan semuanya ini
kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Dan inilah
berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu:
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita
katakana, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam
kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita
hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh
persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, anak-Nya itu, menyucikan
kita daripada segala dosa. (1 Yohannes 1 : 3-7).
Persekutuan yang dibangun atas dasar kasih kepada
Allah tersebut ternyata juga sanggup melintasi batas wilayah. Rasul Paulus menuliskan
surat kepada Korintus agar mereka sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus dan
merasakan tanggungan yang sedang dihadapi oleh saudaranya di Jerusalem.
Kesusahan yang dialami jemaat di Jerusalem membutuhkan pertolongan, dalam hal
inilah Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar secepatnya mengumpulkan
bantuan dan berencana mengutus Titus dan dua orang lainnya untuk mengaturnya.
2)
Gereja
Bersaksi (Marturia)
Marturia merupakan pokok perintah terakhir Tuhan
Yesus kepada rasul-rasul (Kis. 1 :8) dan hari Pentakosta Para Rasul tersebut
mulai melakukannya. Kesaksian adalah hal sangat penting bagi gereja sebab tanpa
kesaksian gereja balik dikatakan akan menjadi gereja yang mati, Tuhan
mengatakan Gereja adalah balik menjadi gereja yang suam-suam kuku harus
melakukannya dengan baik jika tidak Dia akan mengambil kaki diannya. (Wahyu
2:5).
Gereja dipanggil untuk melakukan tugasnya
ditengah-tengah dunia. Tuhan Yesus mengatakan betapa pentingnya mencari
jiwa-jiwa yang tersesat untuk dijadikan murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus memilih para murid dan mengutus mereka
untuk memberitakan injil keselamatan dan Yesus juga menekankan kepada para
murid agar mereka melakukannya tanpa rasa takut dan mereka harus cerdik seperti
ular dan tulus seperti merpati. Dia mengatakan “setiap orang yang mengakui Aku
di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapak-Ku yang di sorga
(Matius 10: 31-33)”.
Kesaksian adalah nafas gereja dia dipanggil dan
dipilih untuk menghasilkan buah (Yoh 15:16) tugas kesaksian diwarisi oleh
gereja perjanjian baru dan mereka sangat giat melakukannya. Atas azas
pengajaran Para Rasul Tuhan. Orang-orang percaya, didukung dan mereka didorong
untuk melakukannya atas keyakinan dan pernyataan Tuhan sampai akhir zaman
(Matius 28: 20) kesaksian adalah merupakan kewajiban. D.W. Ellis mengatakan
dalam buku metode penginjilan bahwa mengabarkan injil bukanlah melakukan
kewajiban kita kepada Kristus yang mengutus kita, tapi juga meneruskan kepada
orang lain.
3)
Gereja
Melayani (Diakonia)
Kata Diakonia (yunani) berasal dari kata diaken,
pada zaman helenisme. Kata diaken ditujukan kepada petugas ibadah di kuil.
Penilis perjanjian baru memakai kata diakon atau diaken dalam mengadakan
pelayanan meja untuk melayani orang
miskin. Saat itu terjadi perselisihan tentang pembagian kepada janda dalam
pelayanan sehari-hari (Kis. 6:1).
Gereja mempunyai tugas mulia sesuai dengan
panggilannya untuk melayani orang-orang yang belum percaya terlebih lagi
orang-orang yang sudah masuk ked alam persekutuan haruslah dilayani.
Sebagaimana para Rasul pada zaman jemaat mula-mula selalu mengartikan pelayanan
yang ditujukan kepada janda-janda dan orang miskin. Rasul Petrus dan Johannes
meneliti Stefanus dan orang lain yang terkenal baik dan penuh iman dan Roh
Kudus (Kis 6:5) khusus untuk mengadakan pelayanan.
Gereja tidak bisa terlepas dari pelayanan
sebagaimana Ellen G. White menyatakan didalam bukunya penuntun pelayanna
Kristen “Allah menuntut setiap orang supaya menjadi pekerja dalam kebun
anggur-Nya, Engkau harus memikul tugas yang telah dipercayakan kepadaMu dan
lakukanlah itu dengan setia.
Ketika anak Zibedeus meminta sesuatu kepada Yesus
lalu Yesus menjawab mereka dengan mengatakan bahwa “anak manusia datang bukan
untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28).
Apa yang telah disampaikan Tuhan Yesus tentang
pentingnya tugas pelayanan hendaknya menjadi suatu motivasi untuk memberi
kesadaran bagi gereja untuk mengutamakan pelayanan.
Ketiga hal yang telah disebut di atas yaitu
bersekutu, bersaksi dan melayani adalah menjadi alat bagi Tuhan. Untuk membawa
semua orang percaya kepada kehidupan kekal di sorga hidup bersama Allah di
dalam suka cita yang sempurna.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar