Minggu, 25 Januari 2015

Visi Misi GPI Namorambe

     Visi
         Tuhan Yesus berfirman dalam Matius 5: 13-14 “Kamu adalah garam dunia” ,, kamu adalah terang dunia’. Dalam hal ini Tuhan Yesus menekankan suatu identitas gereja sebagai garam dan terang dunia sekaligus gereja mempunyai tangung jawab di dalam panggilannya.
         Selanjutnya Tuhan Yesus menyampaikan perkataan-Nya dalam Matius 28 : 19-20 yang dikenal dengan Amanat Agung Tuhan Yesus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
         Dari firman Tuhan Yesus di atas dapat dilihat suatu penekanan tentang aktivitas orang percaya, kata “Pergilah, jadikanlah, ajarlah, babtislah”, kata-kata ini berbentuk kata kerja bentuk aktif ditambah lagi dengan perkataan “Kuperintahkan” oleh sebab itu dalam Amanat Agung ini jelaslah bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana bagi gereja-Nya agar gereja tersebut tidak menjadi gereja yang pasif tapi menjadi gereja yang aktif (hidup) yaitu gereja yang mempunyai kegiatan berdasarkan tanggung jawab dan yang meresponi panggilan Tuhan untuk melaksanakannya.
  
     Misi
Adatiga hal tujuan Yesus memanggil gereja yaitu:
      1.      Gereja bersekutu (koinonia)
      2.      Gereja bersaksi (marturia)
      3.      Gereja melayani (diakonia)

            1)      Gereja Bersekutu (koinonia)
            Persekutuan berhubungan erat dengan gereja yang memuliakan Allah. “Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7) kalau orang Kristen hidup bersama dalam persekutuan sejati berarti : Allah dimegahkan.
            Koinonia pada dasarnya berarti sama-sama menerima bagian satu dengan yang lain tanpa melihat latar belakang sebagai perbedaan yang ada. Bahkan perbedaan yang ada harus dipergunakan untuk memperkaya kazanah bukan sebaliknya. Tuhan Yesus memanggil para murid dari latar belakang yang berbeda, ada pekerjaannya nelayan, pemungut cukai, dan nasionalis (kaum zelot) (Matius 4: 18-21, Lukas 6: 12-16).
             Jemaat mula-mula sebagai persekutuan umat Allah sangat merasakan kuatnya persekutuan, mereka melakukan atas dasar iman yang sama. Persekutuan yang mereka lakukan dibangun atas dasar kasih (agape) dan dialaskan pada partisipasi bersama dalam kehidupan Allah. “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakana, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa. (1 Yohannes 1 : 3-7).
            Persekutuan yang dibangun atas dasar kasih kepada Allah tersebut ternyata juga sanggup melintasi batas wilayah. Rasul Paulus menuliskan surat kepada Korintus agar mereka sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus dan merasakan tanggungan yang sedang dihadapi oleh saudaranya di Jerusalem. Kesusahan yang dialami jemaat di Jerusalem membutuhkan pertolongan, dalam hal inilah Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar secepatnya mengumpulkan bantuan dan berencana mengutus Titus dan dua orang lainnya untuk mengaturnya.

            2)      Gereja Bersaksi (Marturia)
            Marturia merupakan pokok perintah terakhir Tuhan Yesus kepada rasul-rasul (Kis. 1 :8) dan hari Pentakosta Para Rasul tersebut mulai melakukannya. Kesaksian adalah hal sangat penting bagi gereja sebab tanpa kesaksian gereja balik dikatakan akan menjadi gereja yang mati, Tuhan mengatakan Gereja adalah balik menjadi gereja yang suam-suam kuku harus melakukannya dengan baik jika tidak Dia akan mengambil kaki diannya. (Wahyu 2:5).
            Gereja dipanggil untuk melakukan tugasnya ditengah-tengah dunia. Tuhan Yesus mengatakan betapa pentingnya mencari jiwa-jiwa yang tersesat untuk dijadikan murid-murid-Nya.
            Tuhan Yesus memilih para murid dan mengutus mereka untuk memberitakan injil keselamatan dan Yesus juga menekankan kepada para murid agar mereka melakukannya tanpa rasa takut dan mereka harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Dia mengatakan “setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapak-Ku yang di sorga (Matius 10: 31-33)”.
             Kesaksian adalah nafas gereja dia dipanggil dan dipilih untuk menghasilkan buah (Yoh 15:16) tugas kesaksian diwarisi oleh gereja perjanjian baru dan mereka sangat giat melakukannya. Atas azas pengajaran Para Rasul Tuhan. Orang-orang percaya, didukung dan mereka didorong untuk melakukannya atas keyakinan dan pernyataan Tuhan sampai akhir zaman (Matius 28: 20) kesaksian adalah merupakan kewajiban. D.W. Ellis mengatakan dalam buku metode penginjilan bahwa mengabarkan injil bukanlah melakukan kewajiban kita kepada Kristus yang mengutus kita, tapi juga meneruskan kepada orang lain.

             3)      Gereja Melayani (Diakonia)
             Kata Diakonia (yunani) berasal dari kata diaken, pada zaman helenisme. Kata diaken ditujukan kepada petugas ibadah di kuil. Penilis perjanjian baru memakai kata diakon atau diaken dalam mengadakan pelayanan meja  untuk melayani orang miskin. Saat itu terjadi perselisihan tentang pembagian kepada janda dalam pelayanan sehari-hari (Kis. 6:1).
              Gereja mempunyai tugas mulia sesuai dengan panggilannya untuk melayani orang-orang yang belum percaya terlebih lagi orang-orang yang sudah masuk ked alam persekutuan haruslah dilayani. Sebagaimana para Rasul pada zaman jemaat mula-mula selalu mengartikan pelayanan yang ditujukan kepada janda-janda dan orang miskin. Rasul Petrus dan Johannes meneliti Stefanus dan orang lain yang terkenal baik dan penuh iman dan Roh Kudus (Kis 6:5) khusus untuk mengadakan pelayanan.
              Gereja tidak bisa terlepas dari pelayanan sebagaimana Ellen G. White menyatakan didalam bukunya penuntun pelayanna Kristen “Allah menuntut setiap orang supaya menjadi pekerja dalam kebun anggur-Nya, Engkau harus memikul tugas yang telah dipercayakan kepadaMu dan lakukanlah itu dengan setia.
              Ketika anak Zibedeus meminta sesuatu kepada Yesus lalu Yesus menjawab mereka dengan mengatakan bahwa “anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28).
              Apa yang telah disampaikan Tuhan Yesus tentang pentingnya tugas pelayanan hendaknya menjadi suatu motivasi untuk memberi kesadaran bagi gereja untuk mengutamakan pelayanan.

              Ketiga hal yang telah disebut di atas yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani adalah menjadi alat bagi Tuhan. Untuk membawa semua orang percaya kepada kehidupan kekal di sorga hidup bersama Allah di dalam suka cita yang sempurna.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar