Minggu, 01 Februari 2015

Jangan Takut Gagal



Oleh: St M. Sitorus, Sidang Jl Cemara


Dalam kitab, Amsal 19:21-22 “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana. Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong”


Mungkin firman Tuhan ini sudah sering kita dengarkan, atau sudah berkali-kali bahkan beratus kali diajarkan di dalam kehidupan kita. Tetapi pada saat ini, kembali mengingatkan kehidupan kita yang mana dikatakan dalam firman Tuhan, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana”.

Disana saya berikan dalam perikop Jangan Pernah Takut Gagal. Manusia mempunyai manajemen di dalam kehidupannya, manusia mempunyai prinsip di dalam kehidupannya. Untuk melakukan masa depan yang terbaik bagi kehidupannya dan juga bagi keluarga dan anaknya.

Maka semuanya itu, akan dibentuk suatu manajemen supaya apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan itu tidak mengalami kehancuran atau bangkrut total. Setiap kehidupan kita, ketika kita menjalani pendidikan, setelah selesai menjalani pendidikan, masuk ke perguruan tinggi, dan setelah berkeluarga. Setiap manusia itu selalu membentuk manajemen-manajemen itu supaya impiannya bisa tercapai.

Tetapi terkadang manusia, ketika kegagalan datang menghampiri kehidupannya. Ketika ia menyusun begitu baik itu manajemen di dalam kehidupannya, begitu luar biasanya bahwa itu tidak pernah lagi goyah. Dengan orientasi apa yang dilakukan untuk menjadikan keluarganya tidak pernah hancur.

Ketika dia mengalami kehancuran itu, kegagalan itu, apa yang terjadi saudara?

Ketakutan yang luar biasa, ketika manusia dihinggapi ketakutan yang takut akan kegagalan. Akan terjadi dalam diri kita kemalasan. Losok nama na ro, nga gagal manajemen. Malas ma marminggu, malas beribadah kepada Tuhan,

Gagal rencana. Padahal dia bergebu-gebu. Saya berpendidikan bahkan sarjana, gagal. Apa bedanya dengan si anu, apa bedanya dengan yang lain. Kok saya tidak bisa berhasil, padahal sama-sama makan nasi nya, tapi tidak berhasil, katanya. Paling tinggi juga dia makan daging, hape au gulamo.

Setiap orang itu tidak pernah mau dalam kegagalan, dalam bentuk apapun juga. Ketika mau buka usaha, apakah itu dagang yang mau kita lakukan, kita tidak mau jatuh bangkrut, karena apa? Yang kita pikirkan pertama ialah modal, yang kedua yaitu masa depan untuk anak kita, dan yang ketiga yaitu rasa malu.

Ketika usaha kita itu di dalam puncaknya, terkadang manusia tidak pernah menyadari akan kesombongan dalam dirinya. Keangkuhan hidupnya, maka terjadilah kehancuran. Apa yang dialami kehidupan anak tidak dikontrol, banyak yang tidak berjalan sesuai dengan manajemen kita.

Semuanya berantakan, tetapi firman Tuhan mengatakan rasul paulus mengatakan kepada jemaat yang mengalami kedinginan iman. Apa yang dilakukan tidak pernah berhasil, apa yang dikwatirkan, Fillipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Itulah satu manajemen yang kita lakukan dalam kehidupan kita, apapun aktivitas, apapun pekerjaan kita, itu tidak lepas daripada rencana Tuhan, campur tangan Tuhan.

Saat sudara bekerja, jika Tuhan tidak campur tangan, meski kita bekerja dari subuh sekali sampai larut malam, sama dengan nol. Jika Tuhan tidak berkehendak, maka sia-sialah apa pun yang kita kerjakan.

Maka Rasul Paulus mengingatkan kita, apapun yang kita lakukan, apapun yang kita kerjakan tetaplah senantiasa dalam doa dan mengucap syukur.

Karena Dialah damai, Dialah setiap perencanaan kita. Di dalam kehidupan kita, ketika melakukan perencanaan.

Sebagai orang percaya kita tidak perlu takut akan kegagalan, yang akan menghantui kehidupan kita. Baik daripada pemuda-pemudi, ketika mengikuti pendidikan, arahkan hidupmu berserah kepada Tuhan, maka Tuhan akan bertindak.

Dan saudara akan senantiasa menjadi kepala, bukan jadi ekor. Tuhan mau kita menjadi kepada bukan menjadi ekor.

Oleh sebab itu, setiap perencanaan, setiap anggaran, itu semua dasarnya senantiasa libatkan Tuhan.

Ketika persoalan itu datang, masalah itu datang, terkadang kita sering dalam kehidupan kita ketakutan yang luar biasa. Menyatakan dalam kehidupan kita, saya tidak mau lagi melakukan pekerjaan itu, saya sudah pernah melakukan pekerjaan itu tetapi gagal.

Saya sebagai pekerja bangunan, hanya akan mendapat kesempatan mendapat uang jika ada orang yang memberikan pekerjaan kepada saya. Ketika Tuhan berkarya dalam kehidupan saya, pernah saya lupa bersyukur, bahwa itu semua adalah berkat Tuhan. Manajemen yang saya lakukan itu akhirnya hancur lebur.

Apa yang diberikan Tuhan dalam kehidupan manusia itu, dapat dimanfaatkan. Tapi terkadang manusia itu lupa, akan berkat yang dia terima. 

Saat manusia lupa bersyukur, itulah yang pernah saya alami. Suatu penyakit ada dalam tubuh istri saya, yang harus diangkat dengan biaya yang tidak sedikit. Penyakit kista di rahimnya. Sebesar telor angsa kangker yang ada dalam rahim istri saya. Saya bersyukur pada akhirnya bisa ditolong.

Saya menyerah, saya minta ampun, ketika Tuhan pulihkan keadaan, ketika Tuhan berkarya dalam kehidupan orang percaya. 

Jadi saya berkata kepada istri, kalau ada rezekiku berapa pun itu saya akan serahkan kepada Tuhan. Karena apun itu, berkat itu berasal dari Tuhan.

Apa yang kita terima dan peroleh semuanya itu, asalnya dari Allah. Demikian juga berkat dalam keluarga Bapak Mangunsong, bapak ini bersaksi di dalam gereja ini dimana di dalam kehidupannya itu senantiasa bermain-main. Tidak memberikan waktu kepada Tuhan, ketika dia berkeluarga ketika Tuhan memberkati mereka. Ketika Tuhan memberikan pekerjaan baginya, dia tidak pernah mengucap syukur. 

Dan apa yang terjadi, keluarganya hancur berantakan, anaknya selalu bertingkah berbeda dengan orang yang percaya akan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh lingkungan itu, itu yang dilakukan oleh anak itu. Tidak mau mendengarkan ajaran orangtuanya, tidak mau mendengarkan nasehat orangtuanya.

Pekerjaan bapak ini pun diputus. Dan apa yang terjadi, dia terlunta-lunta, kesana kemari mencari pekerjaan tak kunjung dapat. 

Jadi istrinya sudah gelisah, dan dalam hatinya berkata jika hanya dirinya yang membiayai anaknya maka tidak akan cukup tenaganya. Tetapi dia terpikir, untuk memelihara ternak babi. Dan dia menyampaikan kepada suaminya, namun suami menanyakan bagaimana cara melakukannya kepada istrinya. Bahkan suami menyerahkan kepada sang istri untuk melakukannya.

Tetapi istri mencontohkan untuk membuat ilustrasi. Bahkan ibu ini mendapat tawaran dari tetangganya untuk memelihara ternak babi. Dan suaminyalah yang mengurus ternak, sang istri bekerja ke tempat lain. Karena kalau suami ke kedai, hanya maslah yang dapat.

Namun dalam prosesnya, jika ternak ini beranak dua, maka menjadi bagiannya satu ekor, dan satu untuk uTuhan. Jadi jika tiga anaknya, dua di Tuhan, dan satu untuk mereka. Jika empat, maka dua untuk Tuhan dan dua untuk mereka.

Kemudian, ternak ini beranak dua. Setelah tiba waktunya, istri menanyakan kepada suami,sembari mengingatkan janji ucapan syukurnya. Jika dua anak ternak, satu untuk Tuhan dan satu untuk mereka.

Namun sang suami mengatakan, tunggu dulu, biarlah lebih besar sedikit lagi. Namun ada perbedaan dalam anak ternak ini, satu gemuk dan satu lebih kurus. Kemudian yang kurus dipacu memberikan makanan, dan justru terbalik yang tadinya gemuk menjadi kurus.

Suatu ketika, anak ternak ini sama-sama gemuk. Dan suami pun berpikir, jika dia memberikan ke Tuhan, sayang sekal. Padahal saya sudah capek mencari makannya. Ada kecemasan dalam hidupnya.

Satu hari, ternak justru mati satu ekor. Dan istri sedang sibuk di rumah, “ma, ma, sudah mati ternak Tuhan kita itu”. Apakah ini layak kita lakukan, menghianati Tuhan? Hanyalah persembahan yang layak untuk Tuhan.
Setiap aktivitas kita, Tuhan tidak akan pernah lepas. 

Setiap orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan, maka dia akan beroleh kelegaan dan kemenangan. Tidak akan memperoleh kesia-siaan dalam hidupnya. Dan beroleh hidup yang kekal.

Maka ketika persoalan itu ada dalam hidup kita, jangan kita menanamkan dalam diri kita bahwa Tuhan telah meninggalkan kita.

Tetapi itulah pengujian di dalam kehidupan kita, bagaimana kita mengerti. Sampai dimana kita tahan uji, sampai dimana kualitas kita di dalam kehidupan ini.

Tidak ada jauh bedanya dengan kita menjalani pendidikan di sekolah, setiap hari-setiap hari apa maksud Tuhan di dalam kehidupan kita. Jika setiap hari kita renungkan dan pahami maksud firman Tuhan, maka setiap kita dibaharui.

Persoalan apapun itu, masalah apapun itu, jikalau kita meletakkan dalam tangan pengasihan Tuhan, maka itu akan selesai. Yang terjadi kegembiraan yang akan kita peroleh. Jikalau kita mendengarkan perkataan Tuhan maka kita akan memperoleh yaitu janji damai sejahtera yang mengalir seperti sungai, seperti lautan yang tidak putus memberkati hidup kita.

Karena firman Tuhan mengatakan, agar kita tidak menduakan Tuhan dalam kehidupan kita. Setiap orang yang tidak memiliki perencanaan dalam kehidupan kita, adanya kecemasan dalam hidup kita.

Saya yakin dan percaya, jemaat di namorambe akan disertai Tuhan. Prinsip, kita hidup bukan untuk kita tetapi untuk Tuhan, kita dipilih bukan untuk dunia, tetapi untuk Tuhan. Mari kita senantiasa berkarya dalam memuji Tuhan. Agar Tuhan senantiasa memenuhi lumbung-lumbung kita.



AMIN..

::: Disampaikan saat ibadah raya Minggu di GPI Sidang pasar IV Namorambe 10 Agustus 2014.