Minggu, 07 Desember 2014

Ibadah Raya GPI Sidang Pasar IV Namorambe, 7 Desember 2014

Kaum ibu GPI Sidang Pasar IV Namorambe latihan pujian penyembahan
Guru M Sirait memimpin doa Persembahan dan kesaksian
St B Sianturi memimpin lagu pujian ibadah raya

St J Nainggolan, M.Pdk menyampaikan firman Tuhan

Pdt D Hutabalian, STh memimpin doa penutup dan doa berkat

Selasa, 02 Desember 2014

Sejarah Berdirinya Gereja Pentakosta Indonesia

I. PENDAHULUAN

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia tidak dapat dipisahkan dari riwayat pendirinya yaitu Pendeta Evangelis Renatus Siburian. Pendeta Siburian adalah satu-satunya pioner gerakan Pentakosta yang paling berhasil dan pertama di daerah Tapanuli Utara khususnya dan kemudian Sumatera Utara. Perjuangannya menyebarkan Injil dari hanya seorang tamatan Sekolah Alkitab yang bersaksi dari rumah ke rumah, dari dusun ke dusun diberkati Tuhan menjadi ratusan ribu orang yang telah diselamatkan dan puluhan organisasi gereja aliran Roh Kudus yang independen di Sumatera Utara.

Dalam kesibukannya sebagai penginjil dan perintis gereja dia mengalami banyak cobaan dalam hidupnya tetapi semua itu dapat dilaluinya oleh karena Tuhannya yang telah memanggil dia dalam perjuangan salib selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Dalam tugasnya sebagai penginjil pernah dia tidak melihat anaknya meninggal, sebanyak tiga kali, sebab kesibukannya untuk mengemban tugas yang dipikulkan Tuhan Yesus kepadanya adalah segala-galanya, bagaimanapun pada waktu dia sedang menginjil di tempat-tempat terpencil. Ditangkap oleh Pemerintahan Jepang oleh karena injil, kemudian dikucilkan dari kehidupan masyarakat karena dianggap membawa ajaran yang unconventional, tidak cocok dengan doktrin yang sudah ada pada waktu itu. Sebab Pendeta Renatus Siburian adalah perintis pertama ajaran Pentakosta di daerah Tapanuli Utara.Hinaan dan segala macam hambatan tidak pernah menghalangi Pendeta ini untuk menyebarkan Injil, bahkan pernah pula orang menuduh dan menganggap bahwa Pendeta Siburian sebenarnya menyebarkan agama yang baru yaitu agama Siburian, sebab kemanapun dia menginjil ratusan orang akan dibabtis, di setiap kampung kemana dia menginjil pasti hampir seluruh penduduk akan datang mengunjungi Kebaktian Kebangunan Rohaninya, yang unik bahwa setelah KKR yang selalu diadakan di luar rumah misalnya di halaman, di lapangan terbuka dan di pasar-pasar umum, maka sering pula diadakan tanya jawab tentang ajaran Pentakosta dan tentang isi Alkitab. Babtisan massal selalu diadakan di tempat terbuka, di sungai, di kolam, di danau atau di tempat-tempat sejenis itu, sehingga tetap dapat disaksikan oleh banyak orang.

Bukan lagi berita bahwa banyak dari mereka yang dibabtis tadi adalah orang yang kebetulan lewat pada waktu upacara babtisan diadakan dan hanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi, tetapi oleh karena Roh Kudus bekerja, orang-orang yang hanya melihat-lihat tadi malah menyerahkan dirinya untuk dibabtis. Dalam pekerjaannya sebagai pembabtis air, sudah puluhan ribu orang yang dibabtiskannya. Banyaknya orang yang dibabtiskan dalam upacara babtisan tadi sangat bervariasi, antara 100 sampai 1200 orang dalam setiap upacara babtisan. Itulah sebabnya Pendeta Siburian selalu dibantu 4 sampai 12 orang Pendeta pada waktu acara pembabtisan diadakan.

Orang yang sangat sederhana dan rendah hati, tetapi sangat tegas dan keras dalam hal disiplin. Dia tidak pernah mau menonjolkan dirinya secara menyolok. Banyak Pendeta semasa hidupnya berkata supaya dia membuat satu buku biographi, karena itu sangat berguna bagi penerusnya. Tetapi dia hanya menjawab; "Segala apa yang saya kerjakan sudah tercata seluruhnya di sorga". Satu kali dia tertawa dan tersenyum simpul ketika seorang Pendeta mengklaim bahwa dialah perintis satu-satunya dari aliran Pentakosta di Tapanuli/ Sumatera Utara. Padahal Pendeta itu sendiri adalah anak rohani Pendeta Siburian bahkan Pendeta Siburian sendirilah yang membabtisnya. Tidak heran kalau Pendeta Renatus Siburian tidak seberapa dikenal di luar lingkungan penginjilannya, sebab dia tidak pernah berencana supaya menjadi orang yang terkenal.

II. KEKELUARGAAN

Pendeta Ev. Renatus Siburian lahir pada tanggal 19 Oktober 1914 di Paranginan Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Dia adalah anak ke enam dari 7 bersaudara. Abangnya Pendeta Siburian adalah seorang perintis pentakostawi juga di Tapanuli utara dan pernah bekerjasama dalam penginjilan sebelum membentuk organisasi gerejanya sendiri.
Istrinya yaitu Ibu boru Siahaan yang selalu setia mendampingi Bapak Pendeta melahirkan 9 orang anak, tetapi 5 daripadanya dipanggil Tuhan ketika masih kanak-kanak/bayi. Dan 4 orang lagi terdiri dari 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan, yaitu:

1. Rev.M.H. Siburian
2. Lamria Siburian
3. Nursalam Siburian
4. Bresman Siburian

III. PENDIDIKAN

1. Tahun 1921 � 1930 : Tamatan Sekolah Inggris
2. Tahun 1936 akhir : Tamatan Sekolah Alkitab Jalan
Embong Malang, Surabaya dengan gurunya Pendeta W. Patterson.

IV. PEKERJAAN

1. Tahun 1931 � 1935
Bekerja sebagai pegawai perusahaan NKPM di Palembang, dan saat itulah dia bertobat. Dia menjadi anggota muda-mudi gereja di bawah pimpinan Pendeta Siwi.

2. Tahun 1935
Meninggalkan pekerjaannya di perusahaan minyak dan pergi ke Surabaya untuk masuk sekolah Alkitab karena merasa terpanggil untuk menginjil.

3. Tahun 1937
Setelah selesai Sekolah Alkitab, diangkat menjadi Evangelist oleh Hof Bestur De Pinster Kerk untuk daerah kerja Noort, Sumatera, sambil menunggu hasil permohonan izinnya yang diajukan ke Gubernur General yaitu Rechtperson 177 sesuai dengan permohonan.

4. Tahun 1937
Sambil menunggu hasil permohonan, Pendeta Renatus Siburian menginjil ke tanah Karo bekerjasama dengan Pendeta Purba setelah Pendeta Siburian kembali dari Malaysia/Malaka.

5. Akhir tahun 1938
Menginjil dan membuka gereja di Berastagi, tetapi mendapat halangan dari Pemerintah Belanda karena besleit atau izin untuk menginjil belum juga dikeluarkan oleh Gubernur General. Setelah mendapat halangan dari Pemerintah Belanda di Berastagi, Pendeta Siburian pindah ke kota Medan ibukota Sumatera Utara untuk menginjil. Hanya beberapa bulan di sana banyak yang telah bertobat dan berhasil membuka siding yang semua anggotanya terdiri dari orang Tionghoa. Di sini pemerintah Belanda kembali memanggil Pendeta Siburian dan menyatakan bahwa dia tidak boleh membuka siding di kota itu karena besleit, izin penginjil tidak ada atau belum keluar dari Gubernur.

6. Tahun 1939
Oleh karena tekanan Pemerintah Belanda pada Pendeta Siburian sedah begitu gencar, maka Pendeta Siburian pindah ke satu kota kecil bernama Kisaran, dan bekerja sebagai guru agama di gereja HCB (Huria Christian Batak) satu gereja beraliran Protestan. Dengan demikian dia dapat melakukan kegiatan penginjilannya di sekitar daerah itu dengan gerakan Roh Kudus di daerah Asahan dan Labuhan batu. Bahkan pada saat itu banyak orang yang dibabtiskannya (babtisan selam) termasuk beberapa anggota gereja HCB tadi.

7. Tahun 1941
Oleh karena merasa gerakan penginjilannya terbatas di daerah tersebut lebih sebagai guru agama HCB, maka beliau menuju kota Balige di Tapanuli Utara, dan mulai mengadakan gerakan penginjilan di daerah itu. Kemudian daripada itu Pendeta Simanjuntak dating dan beliau bekerjasama dengan Pendeta Siburian. Sementara itu izin dari Gubernur General tidak dapat diharapkan lagi bias diterima oleh Pendeta Siburian sebab Pemerintah Belanda telah mencapnya sebagai Nasionalist, yang pada waktu itu sangat dibenci oleh Belanda. Sampai saat itu Pendeta Siburian belum lagi membuka organisasi agama walaupun sebenarnya orang yang bertobt sudah demikian banyak.

Pada mulanya Pendeta Siburian beranggapan bahwa tidak perlu untuk membuka organisasi agama, yang penting adalah menginjil. Tetapi masalah yang timbul adalah bahwa orang-orang yang telah bertobat tadi yang telah dibabtis yang jumlahnya sudah ribuan orang , tidak mempunyai tempat peribadahan yang tetap. Sebab sudah sudah tentu tidak diterima lagi di dalam gereja asalnya kalau dahulu mereka mempunyai gereja asal. Demikian juga bagi mereka yang bertobat dari sipelebegu (animisme), mereka menginginkan tempat tertentu unutk beribadah. Selain itu mereka yang telah bertobat tadi banyak yang sudah dikucilkan dari addat masyarakat kampung dan organisasi desa sebab mereka dianggap manusia aneh, dengan cara mereka beribadah, tepuk tangan dalam puji-pujian, berdoa dengan suara yang kuat, dan lebih mementingkan pekerjaan Tuhan dari lainnya. Hal yang baru ini belum dapat diterima banyak orang pada waktu itu. Sehingga pengucilan kepada orang-orang lahir baru ini terjadi hampir di segala pelosok.

8. Tahun 1942
Barulah pada tahun ini Pendeta Siburian membentuk suatu organisasi keagamaan yang dinamakan "Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli" . Ini dimungkinkan karena pada waktu itu adalah peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Jepang. Itulah sebabnya semasa hidupnya Pendeta Siburian berkata bahwa Kemerdekaan Indonesia baginya sangat mendalam sekali. Oleh karena kemerdekaanlah maka dia dapat hidup sebagai orang yang mempunyai hak untuk dapat menganut dan menjalankan tugas Injilnya dengan baik. Dan organisasi gereja ini adalah independent, tidak berafiliasi dengan organisasi lain. Ada yang beranggapan bahwa gereja ini berinduk kepada GPDI, hal ini tidak benar, sebab gereja yang dibentuk ini tidak pernah mendaftarkan diri kepadda organisasi lain. Ketuanyapun pada waktu pendirian organisasi gereja itu adalah Pendeta Renatus Siburian. Organisasi Gereja Pentakosta ini pertama kali didirikan di Paranginan, Tapanuli Utara.

Sejak itu penginjilan dengan nama Gereja Pentakosta ini mengembang sampai ke seluruh pelosok Tapanuli Utara. Boleh dikatakan tidak ada pelosok Tapanuli Utara yang tidak dijelajahi untuk menyebarkan Injil Yesus. Gereja ini berkembang dengan baik dan kemudian menyabar sampai ke Sumatera Timur. Pada waktu penyebaran Injil dan perkembangan gereja ini , tidak sedikit percobaan. Pemerintah Jepang mulai dipengaruhi oleh orang-orang tertentu supaya Gereja Pentakosta ditutup saja. Sebab dari satu Gereja yang didirikan sekarang sudah ratusan gereja yang dibuka. Dan ini terjadi pula di daerah Simalungun dimana banyak gereja di bawah pimpinan Pendeta Siburian ditutup oleh pemerintah Jepang, tetapi setelah Pendeta Siburian menghadap Gudsebu Pemerintahan Jepang kemudian diizinkan untuk membuka kembali.

Pengembangan penginjilan yang demikian pesat adalah ditunjang oleh banyaknya tanda-tanda heran dan mujizat yang terjadi di setiap kebaktian massal (KKR) maupun kebaktian rutin. Gereja ini berkembang menjadi Evangelical Church yang murni. Gereja tersebut berkembang menjadi geraja Injili yang fungsinya bukan lagi hanya menampung orang-orang percaya tetapi menjadi pusat gerakan penginjilan di seluruh Tanah Batak dan kemudian Sumatera Timur (sekarang masuk Sumatera Utara). Gereja ini tentu menjadi penggerak penginjilan pentakostawi.

9. Tahun 1944
Gereja Pentakosta Tapanuli ini mengadakan synode yang langsung dipimpin oleh Pendeta Renatus Siburian. Melihat perkembangan yang sudah melebar sampai luar Tapanuli (kabupaten) maka di synode itu diputuskan untuk mengganti nama gereja ini menjadi Gereja Pentakosta Sumatera Utara (Sumatera Utara adalah propinsi).

10. Tahun 1945
Pendeta Siburian mendaftarkan organisasi gereja ini ke Pemerintah Republik Indonesia di pulau Jawa melalui Jawatan agama Tapanuli/ Pulau Jawa. Visi Pendeta Siburian mengenai gereja ini terbuka, ketika dia sadar bahwa gereja ini bisa berkembang ke segala pelosok. Pada mulanya dia berpikir bahwa gerakan ini hanya terjadi di sekitar Tapanulia saja. Namun Tuhan bermaaksud lain, dan ini dengan cepat disadari. Penginjilan ini tidak dapat dibatasi oleh garis perbatasan daerah, sebab penginjilan ini adalah untuk semua manusia.

11. Tahun 1948
Gereja Pentakosta Sumatera Utara mengadakan Synode (dipimpin oleh Pendeta Ev. R Siburian ) yang diadakan di kota Balige Tapanuli Utara dan juga memutuskan nama Gereja Pentakosta Sumatera Utara menjadi Gereja Penakosta Indonesia, yang dipakai sampai sekarang .Belakangan hari ada orang yang memakai nama Organisasi Gereja Pentakosta Sumatera Utara, tetapi itu bukanlah lanjutan dari Gereja Pentakosta Sumatera Utara yang didirikan oleh Pendeta Siburian tetapi orang yang keluar atau memisahkan diri dari gereja pimpinan pendeta Siburian mendirikan gereja yang bernama tersebut.

12. Tahun 1950
Pendeta Siburian sebagai ketua Gereja ini, kembali mendaftarkan Organisasi Gereja ini ke pemerintahan R.I.di Jakarta dan mendapat Surat Pengukuhan dari menteri kehakiman dan Kementerian Agama di Jakarta. No D/11/13176 tertanggal 24 September 1951dari kementerian Agama, dan No 1A 5/114/21 tertanggal24-9-1952, dari Departemen Kehakiman.

13. Tahun 1959
Rombongan Pendeta Siburian mengadakan kunjungan Penginjilan ke Pulau Nias sebuah pulau yang pada waktu itu ditempum empat hari naik kapal kecil lautan Hindia. mereka menginjil dan membuka Gereja disana bersama -sama dengan penduduk setempat antara lain Pendeta Harefa..Sekarang Gereja Pentakosta Indonesia ada 172 sidang di pulau tersebut.

14 Tangal. 20 Juni 1987
Hamba Tuhan Pendeta Evanggelis Renatus Siburian dipanggil oleh Tuhan Yesus di Soga untuk beritirahat dari segala kesusahan dan perjuangan salibnya di atas bumi ini. Dia telah menyelesaikan pekerjaan dan panggilannya dengan baik dan penuh pengabdian. Dia meninggalkan begitu besar pekerjaan untuk kita , dan dia ingin agar kita yang ditinggalkannya dapat meneladaninya sebagaimana dia telah meneladani Kristus. Ketika upacara pengebumiannya diadakan, lebih dari 12.000 orang yang hadir dan ribuan orang yang hadir siang malam di rumah duka (selama 4 hari) untuk mengucapka salam akir mereka kepada Bapak Rohani umat Pentakosta.

15. Gereja Pentakosta Indonesia ketika Pdt. Ev. R. Siburian meninggal:

* Jemaat sebanyak 670 sidang di 11 propinsi
* Pendeta sebanyak 130 orang
* Guru Injil, Sintua, Penginjil sebanyak 2500 orang

16. Kegiatan-kegiatan lain:

* Pendiri dan Ketua Gereja Pentakosta Indonesia sampai akhir hayatnya.
* Mendirikan Organisasi Karyawan Umat Pentakosta indonesia yang disingkat OKUPI , organisasi pendukung GOLKAR.
* Tahun 1962 sebagai sponsor Persekutuan Pendeta-Pendeta aliran Roh Kudus Seluruh Indonesia dan juga menjadi Ketua Kerjasma Pendeta-Pendeta Aliran Roh Kudus.
* Tahun 1964 menjadi Ketua I Dewan Kerjasama Gereja Pentakosta Indonesia.
* Tahun 1970 menghadiri konfrensi Gereja Aliran Pentakosta sedunia di Dallas Amerika Serikat.
* Ketua Dewan Pantekosta Indonesia Tk. I Sumatera Utara sampai akhir hayatnya.
* Ketua Dewan Pertimbangan Rohani Dewan Pantekosta Indonesia
* Tahuhn 1982 mengadakan kunjungan penginjilan ke Malaysia dan Singapura.
* Mendirikan Sekolah Pembangunan Kasih.
* Mendirikan Sekolah Alkitab Gereja Pentakosta Indonesia (SEAGPI).

V. SEKARANG

Gereja Pentakosta Indonesia sekarang berjumlah 1117 Gereja dan di semua propinsi di Indonesia, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Gereja Pentakosta Indonesia segera akan mengembangkan misinya ke luar negeri.

Minggu, 30 November 2014

Makna Hari Pentakosta



Kisah Para Rasul 2:1-4, “Ketika tiba hari Pentakosta , semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus , lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain,  seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”

Setelah kita merayakan hari Kenaikan Tuhan Yesus ke surga maka peristiwa penting berikutnya adalah hari Pentakosta. Istilah Pentakosta adalah dari asal kata bahasa Yunani yaitu “pentekoste“ yang artinya adalah hari yang kelima puluh, ada apa dengan hari kelima puluh? Sebelum Yesus naik ke sorga Ia makan bersama dengan murid-murid-Nya dan Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem dan menyuruh mereka tinggal di situ untuk menantikan janji Bapa yaitu baptisan Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 1:4). 

Dan benar ketika para murid taat, 10 hari setelah Yesus terangkat ke sorga tepatnya di hari yang kelima puluh setelah kebangkitan Yesus Kristus janji Bapa digenapi; yaitu Roh Kudus dicurahkan dan murid-murid di baptis oleh Roh Kudus. Pentakosta menandai dimulainya gereja sebagai suatu tubuh yang berfungsi melalui pencurahan Roh Kudus. Bagi kehidupan orang percaya hari Pentakosta yang merupakan hari dimana pencurahan Roh Kudus untuk pertama kali terjadi memiliki makna yang sangat penting yaitu :
1. Memberikan Kelahiran Baru 

Kisah Para Rasul 2:2,“ Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk.“ Pada peristiwa Pentakosta, tanda pertama yang muncul adalah angin. Wujud Roh Kudus bukan angin keras melainkan kegerakannya seperti angin keras. Disini Tuhan ingin mengungkapkan bahwa Roh Kudus yang turun mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa. Kekuatan dan kekuasaan ini bersama Roh Kudus ada didalam diri orang percaya. Pada saat pencurahan Roh Kudus, mula-mula terdengar suara angin yang menjadi tanda seperti Adam diberikan hidup jasmani oleh Tuhan demikian juga gereja diberikan kehidupan baru secara rohani (Kisah Para Rasul 2:2 dan 17:25).
Roh Kudus datang untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Kita semua bertobat serta mengalami kelahiran baru oleh karena karya Roh Kudus didalam kehidupan kita. Ketika gelombang Roh Kudus melanda Indonesia kita melihat begitu mudahnya seseorang menyadari kehidupannya yang penuh dosa lalu mulai mencari kebenaran dan akhirnya menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya .
Suatu hari ada seorang fulltimer Pusat GBI Jl. Gatot Subroto naik taxi dari Jakarta menuju SICC Tower-Sentul City, Bogor. Di perjalanan ia berbincang-bincang dengan supir taxi tentang bahaya rokok karena supir taxi tersebut sudah bertahun-tahun kecanduan dan terikat dengan kebiasaan merokok. Setelah staf fulltimer menjelaskan secara ilmiah tentang bahayanya merokok bagi kesehatan; dan menurut kitab suci yang diimani oleh si supir taxi; ternyata merokok itu diharamkan. Menyadari bahwa  ternyata selama ini ia telah berdosa kepada Allah karena tidak bisa lepas dari rokok, maka staf fulltimer tersebut menceritakan tentang siapa Isa Almasih atau Yesus Kristus itu? Bahwa di dalam Dia ada pengampunan dosa dan ada jaminan keselamatan.  Lalu apa yang terjadi? Si supir taxi itu berkata: “Pak tolong doakan agar dosa saya diampuni dan hidup saya diberkahi  Allah,“ langsung saja tanpa membuang-buang waktu lagi di area parkir SICC staf fulltimer membimbing dan mendoakan supir taxi dan saat itu juga ia menerima Isa Almasih atau Yesus Kristus sebagai Juruselamat  pribadinya. Haleluyah! Karya Roh Kudus sungguh dahsyat dan mengagumkan! Hal-hal yang seperti itulah yang sedang terjadi, ketika Roh Kudus turun dan kuasa-Nya dinyatakan maka manusia menjadi begitu mudah membuka hatinya bagi Yesus. Kuasa Allah yang membangkitkan Yesus adalah kuasa yang sama yang menjadikan kita manusia baru. “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan r  TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut. “ (Habakuk 2:14).
2. Memberikan Mandat Misi
Kisah Para Rasul 2:3, “Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” Tanda kedua yaitu lidah-lidah api seperti nyala api namun mereka tidak terbakar, peristiwa ini mengingatkan saya dengan pengalaman Musa di Keluaran 3:1-6 di mana ia melihat semak duri yang ada nyala apinya namun tidak terbakar dan ini menggambarkan kehadiran Tuhan. Pada saat itu Tuhan memberikan mandat kepada Musa untuk melayani Dia ; melepaskan bangsa Israel dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
Peristiwa Pentakosta dengan tanda lidah-lidah seperti nyala api menyatakan kepada gereja-Nya untuk pergi memberitakan Injil dan membebaskan manusia dari penindasan serta perbudakan iblis. Pertanyaannya adalah apa itu berita Injil?  Injil adalah kabar baik, apa kabar baiknya? Bahwa semua manusia sudah berdosa, dosa adalah pelanggaran terhadap Firman Tuhan, dosa adalah ketidak taatan terhadap perintah Tuhan dan upah dosa adalah maut.
Namun karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yang bernama Yesus supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Jadi jika kita mengaku dengan mulut, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut kita mengaku dan diselamatkan. Itulah berita Injil! Mengapa harus Injil yang diberitakan? karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16).
Yesus mencintai semua manusia oleh karena itu Ia ingin agar semua orang diselamatkan. Jadi, memberitakan Injil itu sama dengan menyatakan cintanya Tuhan. Ada konsekuensi ketika kita menyatakan cinta kepada seseorang yaitu diterima atau ditolak cintanya. Ketakutan yang sering muncul didalam perasaa seorang pria ketika ingin menyatakan cintanya yaitu perasaan takut ditolak. Sebelum Yesus terangkat ke sorga Ia berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8).
Ketika kita di baptis oleh Roh Kudus maka kita sudah menerima “kuasa” untuk menjadi saksi Kristus. Kata saksi berasal dari kata “Martus” yaitu orang yang mau memberitakan tentang Kristus, memberitakan Injil sekalipun harus menyerahkan nyawanya dan menjadi seorang martir. Yesus berkata:  “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:18-19).
Ketika kita dibenci, ditolak, diftnah oleh karena kita melakukan Firman Tuhan maka kita harus bersyukur sebab itu membuktikan bahwa kita itu betul-betul milik Kristus, oleh karena itu Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:10). Tanda seorang warga dan ahli waris Kerajaan Sorga adalah rela mengalami aniaya karena Kristus dan percayalah; ketika kita mengalami aniaya maka Kerajaan Sorga tidak akan tinggal diam, Tuhan pasti tolong tepat pada waktu-Nya.
3. Menyatukan Orang Percaya
Kisah Para Rasul 2:4, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Pada waktu peristiwa menara Babel (Kejadian 11) manusia ingin bersatu dan meninggikan dirinya akibatnya Tuhan tidak berkenan lalu melalui bahasa maka Tuhan memisahkan bangsa-bangsa. “Kejadian 11:7, “Baiklah Kita turun dan mengacau-balaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.” Namun ketika peristiwa Pentakosta murid-murid di baptis oleh Roh Kudus mereka penuh Roh Kudus dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh kepada mereka untuk mengatakannya. Orang-orang mendengar para rasul berbicara dalam bahasa  dari suku bangsa yang lain (Kisah Para Rasul 2:6-8). Makna rohani bagi kita adalah bahwa pada hari Pentakosta Roh Kudus mempersatukan semua suku dan bangsa, sehingga Roh Kudus yang ada didalam hati kita telah menjadi pemersatu dan menjadi tanda bahwa kita adalah milik Kristus .
Tanda seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah akan selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan (Unity) karena kebersamaan itu sendiri diinginkan Tuhan Yesus dalam doa-Nya:”…supaya mereka menjadi satu…” (Yohanes 17:21). Inilah yang menjadi tugas kita untuk mewujudkan kerinduan Tuhan , Tubuh Kristus bersatu didalam fungsi dan pelayanan. Bagaimana kita menumbuh-kembangkan “kebersamaan“ kita dengan mengurangi penonjolan “keakuan?“ Ini menyangkut sikap mental, perilaku dan paradigma, serta membutuhkan waktu.
Mengingat kompleksitas permasalahan bangsa akhir-akhir ini, ditambah makin tipisnya kebersamaan sedangkan musibah serta bencana nasional datang silih berganti maka sudah waktunya ditinggalkan ke-aku-an, kemudian menonjolkan kebersamaan  sebagai bangsa yang senasib sepenanggungan. Persoalan yang ada saat ini adalah; banyak orang Kristen sudah  tidak perduli lagi satu dengan yang lainnya. Akibatnya kebersamaan sudah tidak terasa lagi, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Event demi event diadakan yang bertemakan kebersamaan atau Unity terkesan hanya sebuah slogan saja dan tidak  terlihat didalam keseharian kehidupan bergereja.
Jika di sebuah gereja hanya Gembala dan pengerja saja yang hidupnya berkelimpahan sementara masih banyak jemaat yang hidupnya berkekurangan bahkan tidak bisa bebas alias dililit hutang, berarti ada sesuatu yang belum beres di gereja tersebut, bagaimana dengan rasa kebersamaannya? bagaimana dengan keperdulian? Atau jika disebuah kota ada gereja yang berkelimpahan hartanya sehingga bisa mengadakan ibadah ditempat-tempat atau memiliki gedung gereja yang mewah dengan fasilitas yang lux sementara dikota yang sama ada gereja yang tempat ibadahnya sangat memprihatinkan bahkan ada gereja yang tempat ibadahnya ditutup sehingga jemaatnya tidak bis beribadah dengan baik.
Bukankah Yesus telah berfirman: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35). Lawan dari cinta/kasih adalah benci, benci adalah suatu perasaan “tidak suka“ terhadap sesuatu  atau seseorang secara berlebihan. Ketika seseorang membenci sesuatu sebetulnya akan mudah bagi kita untuk mengetahui apa yang sebetulnya ia sukai, namun sikap tidak perduli alias cuek  ini yang tidak jelas dan ini adalah sikap yang tidak disukai oleh Tuhan. Wahyu 3:15-16, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Suam-suam kuku ini adalah suatu sikap yang tidak jelas atau tidak perduli dan tidak perduli ini punya akar yaitu mementingkan diri sendiri, mencari keuntungan diri sendiri.
Kehidupan gereja seharusnya adalah kehidupan dari orang-orang yang saling perduli satu sama lain karena sudah menerima kasih Kristus, kasih itu ibarat lem perekat, pipa penyambung, penghilang rasa tawar.  Seperti yang terjadi didalam kehidupan jemaat mula-mula yang saling mengasihi terbukti saling perduli satu dengan yang lainnya sehingga kuasa Roh Kudus bekerja dengan dahsyat.  Dampaknya adalah tidak ada seorangpun yang hidupnya  pada saat itu berkekurangan dan dikatakan  tiap-tiap hari Tuhan menambahkan dengan jiwa-jiwa yang diselamatkan .
Sebagai orang percaya kita harus lebih banyak merenungkan makna hari Pentakosta dimana Roh Kudus telah dicurahkan, supaya unity didalam tubuh Kristus semakin kuat, pekabaran Injil semakin gencar dan jiwa-jiwa melihat terang Tuhan  maka kita akan melihat transformasi terjadi di bangsa kita Indonesia yang kita cintai. Kiranya Tuhan memberkati kita semua, amin! (FM)
Dikutip dari: http://gbihog.org/index.php?option=com_content&view=article&id=255:makna-hari-pentakosta&catid=3:renungan&Itemid=7

Pentakosta Pada Masa Kini?



Penulis_artikel: 
Sinclair B Fergusson
Isi_artikel: 
Sinclair B Ferguson adalah asisten profesor Teologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA. Artikel ini disadur dari tulisannya berjudul "Countours of Christian Theology."
Turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta harus dilihat sebagai peristiwa kristologis. Karena itu, pengertian tentang karya Roh Kudus harus dipahami dari karya Kristus. Namun timbul satu pertanyaan: Apakah Pentakosta memiliki pengaruh yang menetap bagi kehidupan gereja?
Perjanjian Baru membukakan rincian dari titik-titik penting dalam karya Kristus, yakni: kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:11-3:4). Demikian pula dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus: 'Kita semua dibaptis oleh satu Roh ke dalam satu tubuh - baik Yahudi maupun Yunani, budak maupun orang merdeka' (1 Kor. 12:13). Kata-kata ini sama dengan kata-kata yang digunakan dalam peristiwa Pentakosta (Luk. 3:16 dan Kis. 1:5, 11:16).
Pernyataan Paulus bersifat mencakup semua orang. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Korintus, hal ini juga berlaku bagi kita dan setiap orang percaya (melalui baptisan Roh, kita masuk ke dalam satu tubuh dimana semua orang percaya termasuk di dalamnya) dan semua jenis orang percaya (Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka).
Beberapa pertanyaan penting muncul di sini - untuk membangun sebuah teologi tentang pengalaman gereja masa kini bersama Roh Kudus:
  1. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman terdahulu dari para murid Yesus dengan Roh Kudus?
  2. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman bersama Roh Kudus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, di Samaria (Kis. 8:4-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:1), dan di Efesus (Kis. 19:1-7) - dalam ketiga-tiganya, nampaknya turunnya Roh Kudus menyusul setelah terjadi pertobatan. Apakah ini berarti adanya berkat kedua setelah pertobatan?
  3. Apakah hubungan antara Pentakosta dan baptisan Roh Kudus yang Paulus tuliskan dalam 1 Kor. 12:13?
  4. Unsur-unsur manakah dari Pentakosta yang tidak dapat terulangi, hanya satu kali terjadi? Manakah unsur-unsur yang dapat terulang, bahkan menjadi norma atau ketetapan bagi gereja masa kini?
Pentakosta dan Para Murid
Murid-murid yang berkumpul bersama setelah Yesus bangkit, adalah orang-orang yang sungguh percaya (Mat. 16:15-20); mereka sudah dibersihkan dan dipersekutukan dengan Kristus (Yoh. 15:1-11). Dengan demikian, ini adalah buah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup mereka. Tetapi jelas bahwa mereka belum menerima baptisan Roh yang dijanjikan (Kis. 1:5). Pengalaman mereka bersama Roh Kudus bersifat progresif.
Dari hal ini, tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa pengalaman para murid harus menjadi pengalaman kita juga pada masa kini. Pengalaman mereka bersifat unik karena mereka hidup dalam masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Pengalaman mereka hanya terjadi satu kali dan tidak menjadi pola bagi kita untuk masa kini. Sebab masuknya mereka ke dalam kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam dua tahap yang berbeda: mencerminkan sebuah pola kesinambungan dengan kita (Roh yang sama), dan pola ketidak-sinambungan (hanya dalam Pentakosta, Roh Kudus datang dalam tugas dan pelayanan-Nya sebagai Roh Kristus yang dimuliakan). Pola demikian didasarkan atas munculnya jaman baru dari jaman lama. Jadi terdapat keistimewaan dalam pengalaman murid-murid, sama seperti pengalaman mereka bersama Yesus.
Kaisarea, Samaria, Efesus
Bagaimana dengan turunnya Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:9-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:44-48), dan di Efesus (Kis. 19:17)? Yang paling mencolok adalah yang terjadi di rumah Kornelius karena istilah-istilah yang digunakan di dalamnya juga digunakan dalam Pentakosta. Misalnya: pencurahan (Kis. 2:17-18,33; 10:45); baptisan (Kis. 1:5; 11:16); dan karunia (Kis. 2:38; 11:17). Fenomena berbahasa roh juga terjadi lagi di sini (Kis. 2:4; 10:6). Lebih lanjut, Petrus melihat kesamaan antara kedua peristiwa: 'Roh Kudus telah datang kepada mereka seperti kepada kita dahulu. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: 'Yohanes membaptis ... kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus...; ...Allah memberikan karunia kepada mereka sama seperti Ia telah berikan kepada kita ...' (Kis. 11:15-17).
Pengertian Petrus terhadap kejadian ini, sejalan dengan rencana dalam Kis. 1:8. Turunnya Roh Kudus kepada seisi rumah Kornelius menandai tersebarnya Injil ke daerah orang non-Yahudi. Ini ditegaskan oleh Gereja Yerusalem: 'Ketika mereka mendengar ini, mereka tidak lagi berkeberatan dan memuji Tuhan, katanya: "Jadi, Allah juga mengaruniakan pertobatan kepada orang non-Yahudi"' (Kis. 11:18). Kejadian ini dilihat sebagai kejadian yang hanya terjadi satu kali dan memang direncanakan secara khusus dan unik. Jadi ia lebih bersifat programatik daripada paradigmatik.
Namun demikian, dalam kasus Samaria dan Efesus, nampak adanya tahap kedua dalam pengalaman mereka dengan Roh Kudus. Orang-orang Samaria percaya ketika Filipus memberitakan Injil Kerajaan Allah dan nama Yesus Kristus, dan dibaptis; tetapi hanya ketika Petrus dan Yohanes datang, barulah mereka didoakan agar mereka menerima Roh Kudus karena sampai saat itu Roh Kudus belum datang atas mereka; mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Maka Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas mereka, dan mereka menerima Roh Kudus (Kis. 8:12, 15-17). Kemudian, Paulus bertanya kepada orang Efesus, 'Apakah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya?' Jawabannya mengherankan: 'Kami bahkan belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.' Setelah memberitakan Kristus kepada mereka, 'Paulus menumpangkan tangannya atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:1-7).
Sering dikatakan, berdasarkan pengalaman para rasul pada hari Pentakosta dan juga pengalaman di Samaria dan Efesus, maka Lukas dan Kisah Para Rasul mengajarkan dua tahap untuk masuk ke dalam kepenuhan Roh. Kira-kira pemikirannya seperti ini:
  1. Kelahiran kembali oleh Roh Kudus (pertobatan)
  2. Baptisan Roh
Jadi selama Yesus hidup di dunia, para murid hanya baru dilahirkan kembali. Nanti, pada hari Pentakosta, barulah mereka mengalami karya Roh Kudus: mereka dibaptis dan dipenuhi dengan Roh dan berbahasa roh sebagai bukti bahwa mereka sudah menerima Roh Kudus. Ini menjadi model bagi dua tahap karya Roh Kudus. Berdasarkan pengertian ini, di Samaria dan Efesus, kita menemukan orang-orang percaya (yang sudah dilahirkan kembali), namun belum menerima (belum dibaptis) dengan Roh Kudus. Tahap yang kedua ini dianggap berbeda dengan kelahiran kembali.
Kita sudah melihat sekalipun pengalaman para rasul terbagi dalam dua tahap, hal ini bukan menjadi contoh bagi kita. Namun bukankah seharusnya pengalaman para rasul menjadi pengalaman kita juga pada masa kini?
Pandangan dua tahap dari karya Roh Kudus bukan hanya dianut oleh golongan Pentakosta dan Karismatik, tetapi juga oleh Katolik. Dalam Katolik, seseorang dianggap masuk dalam persekutuan dengan Roh melalui penumpangan tangan (Kis. 8:17; 9:16). Dalam Pantekosta dan Karismatik, baptisan Roh diwujudkan dengan berbahasa roh, dan ini merupakan pengalaman kedua setelah pengalaman pertama (pertobatan).
Dalam Lukas dan Kisah Rasul, Pentakosta digambarkan sebagai kisah sejarah penebusan. Penafsirannya tidak boleh secara eksistensial dan pneumatologis, tetapi harus eskatologis dan kristologis. Secara mendasar, peristiwa Pentakosta bersifat terjadi satu kali saja sebagaimana seluruh kejadian dalam hidup Yesus (kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga). Dalam konteks ini, Kisah Para Rasul, bukanlah kisah Roh Kudus, tetapi kisah Yesus Kristus melalui Roh Kudus (implikasi dari Kis. 1:1-4 adalah bahwa kejadian yang dijanjikan dalam Kis. 1:5 menandai sebuah era baru dimana Yesus sendiri sebagai Tuhan yang mulia, akan bekerja dan mengajar).
Dipahami dalam kerangka pikir demikian, kejadian-kejadian di Samaria dan Kaisarea menandai dimulainya tahap kedua dan tahap ketiga dari penyebaran kerajaan Kristus seperti tertera dalam Kis. 1:8:
  1. Injil tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta.
  2. Injil tiba di Samaria. Kis. 8 menggambarkan terjadinya kebangunan iman melalui pelayanan Filipus, diikuti oleh kunjungan Petrus dan Yohanes sebagai utusan rasuli (Kis. 8:14), dan pencurahan Roh Kudus setelahnya. Peristiwa-peristiwa ini dapat dipahami jika dimengerti dalam konteks tahap penyebaran injil seperti dijanjikan oleh Yesus. Karena itulah, kita tidak perlu berpikir bahwa orang- orang Samaria belum bertobat, sekalipun ada kemungkinan demikian.
  3. Injil sampai ke Kaisarea sebagai wakil dari dunia non-Yahudi ('ujung bumi', Kis. 1:8; khususnya Kis. 11:18). Banyaknya ayat yang membahas hal ini dalam Kisah Para Rasul (66 ayat) menunjukkan pentingnya peristiwa ini bagi Lukas. Hal ini lebih dari sekedar 'kisah pertobatan mendadak', sebuah paradigma yang berlaku bagi setiap zaman. Sebaliknya, peristiwa ini merupakan sebuah perkembangan yang spesifik dan strategis dari rencana misi dalam Kis. 8.
Kejadian-kejadian di Efesus berbeda dengan Samaria dan Kaisarea. Kelompok yang bertemu dengan Paulus, yang disebut sebagai 'beberapa murid' (Kis. 19:1), merupakan sesuatu yang unik. Lukas memberikan kesan kepada kita bahwa ia tidak melihat orang-orang ini sebagai 'orang Kristen' sesuai konsep Perjanjian Baru:
  1. Peristiwa tersebut terjadi dalam konteks pemahaman yang kurang utuh terhadap Injil, dimana hal ini juga terjadi dalam permulaan pelayanan Apollos; Lukas membeberkan fakta dimana 'ia hanya mengetahui baptisan Yohanes' (Kis. 18:25).
  2. Mereka yang hanya mengenal baptisan Yohanes merupakan kelompok yang khusus di Efesus. Mereka disebut sebagai 'beberapa murid' dengan asumsi bahwa banyak orang Kristen lainnya di Efesus. Lukas menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada 12 orang dalam kelompok itu. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa semua orang Kristen harus seperti mereka. Dalam kenyataannya, mereka adalah para murid dari Yohanes Pembaptis.
Mereka belum menerima baptisan Kristen. Hanya melalui baptisan Kristen dan penumpangan tangan, barulah Roh Kudus turun atas mereka dan mereka 'berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:6). Ini merupakan tanda tibanya Perjanjian Baru. Sebagaimana murid-murid pertama pada hari Pentakosta, banyak yang hanya menerima baptisan Yohanes. Jadi ke- 12 orang ini berada dalam tahap transisi dari tahap penantian kepada tahap penggenapan.
Kadang-kadang untuk melawan doktrin dua tahap, kita perlu kembali kepada prinsip dasar hermeneutik, yaitu: kita tidak boleh menyusun doktrin dari Kisah Para Rasul sebagaimana juga dari kitab Raja-raja. Kita harus menyusun doktrin dari bagian Alkitab lainnya, sementara Kisah Para Rasul (sebagai salah satu contoh kisah sejarah) menjadi ilustrasi bagi doktrin tersebut. Ini merupakan prinsip yang penting. Struktur teologi Kristen harus didasarkan dalam pemaparan teologis dan norma-norma dalam Alkitab, bukan diambil dari kejadian tertentu dalam sejarah (yang memang terjadi, tetapi tidak mutlak, dan harus ditafsirkan lebih lanjut secara teologis). Tetapi prinsip ini tidak terlalu relevan bagi pembelaan kita. Sebab Kisah Para Rasul sendiri menegaskan bahwa kejadian-kejadian yang ada tidak boleh dianggap sebagai paradigma, tetapi sebagai kejadian yang unik dan tidak terulang (sui generis).
Kisah Rasul tidak pernah mewajibkan kita mengalami pengalaman dua tahap seperti yang dialami para rasul. Pembelaan Petrus terhadap kejadian di Kaisarea bisa memberikan solusi. Ia menyamakan pengalaman seisi rumah Kornelius dengan pengalaman murid-murid pada hari Pentakosta (Kis. 11:15: 'Roh Kudus turun atas mereka seperti ia telah turun atas kita pada mulanya') dan memahami kejadian ini dalam pengertian berikut ini: 'Tuhan memberikan kepada mereka karunia yang sama seperti yang telah diberikan-Nya kepada kita yang percaya dalam Tuhan Yesus Kristus' (Kis. 11:17). Memang para murid sudah percaya kepada Yesus sebelum hari Pentakosta, tetapi yang baru dan berbeda dalam iman mereka adalah objek iman; sebelumnya mereka tertuju kepada Kristus yang sedang mengosongkan diri-Nya, kini iman mereka tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan yang mulia sesuai janji Mesias (Mzm. 110:1).
Karena sejarah penebusan terus bergulir, maka dahulu rasul-rasul harus mengalami pengalaman dua tahap, sementara kita hanya mengalami satu tahap. Iman percaya tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan, dan percaya kepada-Nya berarti menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid pertama pada hari Pentakosta, yaitu: Roh Kudus. Bahasa roh dan nubuat yang digambarkan dalam Kis. 10:46, 19:6, dan mungkin 8:17, bukanlah bukti bagi pengalaman tahap kedua, tetapi merupakan tanda- tanda bergulirnya sejarah penebusan kepada zaman perjanjian baru lebih lanjut. Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa Pentakosta memberikan kepada kita paradigma dua tahap untuk pengalaman pribadi kita dengan Roh Kudus. Sebaliknya, pada titik iman itu, kita menerima berkat turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta.
Abraham Kuyper memberikan sebuah analogi untuk menggambarkan perbandingan antara pengalaman bersama Roh Kudus sebelum dan sesudah Pentakosta, dan menjelaskan turunnya Roh Kudus kemudian. Karena keterbatasannya, analogi tersebut menegaskan bahwa Pentakosta dan kejadian-kejadian berikutnya membutuhkan sebuah metode penafsiran yang benar:
Ada sebuah kota dimana penduduknya minum dari pompanya masing-masing. Kini mereka hendak membuat sebuah PAM untuk menyediakan kebutuhan air bagi setiap rumah. Ketika pekerjaan itu selesai, air mengalir melalui sistem pusat dan pipa kepada setiap rumah ... Dalam kota itu terdapat dataran rendah dan dataran tinggi, keduanya harus disuplai oleh PAM yang sama. Pada saat acara pembukaan, penyaluran air terjadi namun hanya satu kali; saat penyaluran air di kota yang lebih tinggi, meskipun luar biasa, tetapi merupakan akibat dari peristiwa pembukaan sebelumnya...
Pada hari pentakosta, Ia (Roh Kudus) dicurahkan kepada semua orang percaya, tetapi hanya untuk menghilangkan dahaga satu bagian, yaitu: orang Yahudi. Inilah pencurahan original di Yerusalem pada hari Pentakosta, dan pencurahan tambahan di Kaisarea, bagi orang-orang non- Yahudi; kedua-duanya sama, tetapi masing-masing memiliki karakternya.
Disamping itu, ada pencurahan Roh Kudus yang khusus, terjadi melalui penumpangan tangan oleh para rasul. Dari waktu ke waktu, saluran baru dibuat antara rumah-rumah penduduk dan PAM, sehingga bagian-bagian baru dalam tubuh Kristus ditambahkan dari luar ke dalam gereja. Ke dalam inilah, Roh Kudus dicurahkan dari tubuh kepada anggota-anggota baru.
Apa yang terjadi di Samaria, di rumah Kornelius, dan di Efesus harus dimengerti dalam konteks keunikan sejarah dan latar belakang gereja mula-mula. Peristiwa Pentakosta tidak terulang, sama seperti kebangkitan Kristus. Namun kita memasukinya dengan cara demikian, sehingga Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita melalui iman dalam Kristus (Rom. 5:5). Masing-masing minum dari Roh untuk dirinya (1 Kor. 12:13). Hal ini semakin jelas ketika kita melihat Pentakosta sebagai salah satu aspek karya Kristus, bukan sebuah peristiwa yang terpisah dari-Nya, atau sekedar tambahan. Ini adalah bukti nyata sebuah kemenangan. Peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta adalah pernyataan secara umum dari realita yang terselubung, yaitu: Kristus telah ditinggikan sebagai Tuhan yang mulia. Kini sebagai Pengantara bagi kita, permohonan-Nya agar turunnya Roh Kudus, telah dikabulkan.
Seperti kita tahu, ungkapan Petrus dalam Kis. 2:33 menunjuk kepada penggenapan dari janji Mesias dalam Mzm. 2:6-8: 'Aku telah melantik raja-Ku di Zion, gunung-Ku yang kudus .. Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai bagianMu, seluruh bumi sebagai milik-Mu'. Kristus yang telah naik ke surga, memohon agar Roh Kudus turun sebagai penggenapan janji yang sudah diberikan (Gal. 3:13-14; Yer. 31:31; Yoh. 14:16). Permohonan Kristus dikabulkan. Pentakosta, seperti peristiwa lainnya, pada diri-Nya bersifat unik. Pentakosta tidak bisa diulangi, seperti juga kematian, kebangkitan, atau kenaikan Yesus juga tidak bisa diulangi. Ia merupakan sebuah peristiwa (event) dalam sejarah penebusan (historia salutis), dan tidak boleh dipaksa menjadi peristiwa keselamatan pribadi (ordo salutis).
Turunnya Roh Kudus adalah bukti dari pelantikan Kristus, sama seperti kebangkitanNya adalah bukti kemenangan dalam kematian Kristus sebagai korban tebusan (Rom. 4:24). Ini tidak berarti Pentakosta tidak memiliki dimensi eksistensial atau relevansi. Tetapi ini berarti kita tidak mungkin mengharapkan Pentakosta bagi diri kita secara pribadi, sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan terjadi lagi baptisan di sungai Yordan, pencobaan di Padang Gurun, pergumulan di Getsemani, atau penyaliban di Golgota dalam hidup kita. Jika kita berusaha mengulangi apa yang tidak bisa terulang, sama saja kita menyangkali kuasa dan signifikansi dari peristiwa tersebut.
Baptisan Roh yang Berbeda-Beda?
Apakah hubungan antara baptisan Roh dalam Kis. 2 dan baptisan Roh dalam surat Paulus 1 Kor. 12:13? Perjanjian Baru menekankan prinsip bahwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus membawa dampak pengaruh bagi pengalaman kita kini. Orang-orang percaya mendapatkan manfaat dari peristiwa sejarah penebusan seperti kematian, penguburan, kebangkitan, dan kenaikan Kristus (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:9-3:4). Jadi meskipun Pentakosta hanya satu kali terjadi, baptisan Roh yang terjadi saat itu terus bergulir kepada jaman-jaman berikutnya. Sama seperti darah Kristus membersihkan orang dari setiap suku, bahasa, dan bangsa (Why. 5:9), maka Roh Kudus mengalir dari jasa Kristus pada hari Pentakosta ke Yerusalem, dan dari sana terus menyebar ke seluruh Yudea, mengumpulkan momentum ke Samaria sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Semua yang datang dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan, menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid. Akibatnya, orang-orang percaya masuk ke dalam manfaat dari Pentakosta, sama seperti mereka masuk ke dalam manfaat dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus: 'Kita semua telah dibaptiskan oleh satu Roh ke dalam satu tubuh' (1 Kor. 12:13).
Ada yang berpendapat bahwa di sini Paulus berbicara mengenai baptisan Roh yang berbeda dengan baptisan Roh yang dijanjikan oleh Yohanes dan Yesus pada hari Pentakosta. Dalam baptisan Roh yang dimaksudkan oleh Yohanes dan Yesus, Kristuslah Sang Pembaptis, dan Roh adalah elemen baptisan; sedangkan dalam baptisan Roh dalam 1 Kor. 12:13, Rohlah Sang Pembaptis, dan kita dibaptis ke dalam tubuh Kristus. Tetapi James Dunn mengatakan:
Dalam Perjanjian Baru kata 'en' dengan 'baptizein' tidak pernah menunjuk kepada orang yang membaptis; sebaliknya, ia selalu menunjuk elemen yang melaluinya baptisan itu dilakukan, kecuali jika ia merupakan bagian dari frase yang lebih panjang...
Sangat bertentangan dengan penafsiran umum jika kita membaca bahwa Yesus membaptis dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Mat. 3:11; Mark. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kis. 1:5; 11:16) seolah-olah menunjukkan perbedaan kronologis dan perbedaan jenis baptisan.
Dalam 1 Kor. 12:13, Paulus menunjukkan bahwa semua orang percaya dibaptis dengan Roh dan minum dari air Roh. Elemen dari peristiwa Pentakosta diulang kembali dalam hidup orang percaya pada setiap jaman. Tetapi bagaimana kita bisa membedakan aspek sejarah penebusan (yang tidak terulang) dengan aspek eksistensial (yang bisa terulang)?
Beberapa elemen dari Pentakosta jelas merupakan aspek dari peristiwa yang tidak terulang (once-for-all event). Contohnya penantian para murid. Sama seperti munculnya bunyi angin dan lidah-lidah api. Ini bahkan tidak diulangi dalam Kisah Para Rasul. Sedangkan berbahasa roh diulangi dalam seisi rumah Kornelius (Kis. 10:46), dan di Efesus (Kis. 19:6). Banyak penafsir meyakini melalui penampakan Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:7-18), bahasa roh juga terjadi di situ. Bahasa roh pada hari Pentakosta diulangi. Tetapi seperti kita tahu, tiga kejadian ini harus dilihat sebagai unik dan tiada bandingnya (idiosyncratic) dalam kitab Kisah Para Rasul. Fenomena ini tidak tercatat dalam kasus- kasus lainnya (mis. Sida-sida dari Etiopia, Saulus dari Tarsus, Lydia, kepala penjara Filipi). Pengulangan ini adalah aspek-aspek dari signifikansi yang khusus dari apa yang terjadi. Samaria dan Kaisarea adalah posko-posko yang termasuk dalam program Kis. 1:8; Efesus menandai transisi dari dunia Perjanjian Lama dan dunia baptisan Yohanes, kepada dunia Perjanjian Baru dan baptisan Roh yang datang dari Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul (sama seperti dalam seluruh Perjanjian Baru), bahasa roh pada hari Pentakosta tidak pernah dilihat sebagai 'dapat terulang' dalam pengalaman orang-orang percaya pada waktu-waktu selanjutnya.
Tetapi ada aspek lebih lanjut dari Pentakosta. Yesus menjanjikan murid-muridNya, bahwa turunnya Roh Kudus akan membawa 'kuasa'. Sebagai akibatnya mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke ujung bumi (Luk. 24:49; Kis. 1:8). Pada hari Pentakosta, murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga mereka berbahasa roh. Sementara berbahasa roh jarang disebut lagi dalam Kisah Para Rasul, kekuatan (empowerment) dimana Roh Kudus memenuhi seseorang diulangi dalam banyak kejadian.
Lukas dan Kisah Para Rasul berbicara mengenai dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai syarat yang berlaku terus, tetapi juga menggambarkan situasi khusus ketika seseorang mengalami kepenuhan yang unik (berbeda). Sebagai syarat yang berlaku terus, kata 'pleroo' digunakan (band. Luk. 4:1; Kis. 6:3; Ef. 5:18); sedangkan sebagai pengalaman khusus digunakan kata 'pimplemi' (Luk. 1:41,67; Kis. 2:4,4:8, 31,9:17). Dalam pengertian yang pertama, dipenuhi Roh Kudus menunjuk kepada menghasilkan buah Roh dalam kehidupan, dimana Roh Kudus memerintah atas orang itu (Ef. 5:18). Sedangkan dalam pengertian yang kedua, ini menunjuk kepada pemberian kemampuan dan kuasa khusus untuk melayani kerajaan Allah. Ini yang terdapat dalam Kis. 1:8, dan juga dalam Kis. 2:4. Yang menarik adalah, ini terkait dengan kata-kata dari orang yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus.
Pemberian kuasa pada hari Pentakosta, dan kepenuhan Roh, sekalipun luar biasa, bukanlah fenomena yang tersendiri dalam Kisah Para Rasul. Pengulangannya tidak selalu sama. Jadi dari karya Roh Kudus, aspek ini nampak dapat terulang.
Kebangunan
Aspek yang berhubungan dengan Pentakosta adalah 'kebangunan rohani'. Kebangunan rohani adalah orang-orang percaya dibangkitkan dan orang- orang non-Kristen dibawa kepada kerajaan Allah dalam jumlah besar- besaran. Masing-masing menyadari dosanya dan kebutuhannya akan Tuhan. Semua ini terjadi karena kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Dalam beberapa hal, Pentakosta boleh disebut sebagai kebangunan rohani pada jaman Perjanjian Baru. Tentu saja ada kesadaran akan dosa, kekaguman yang ditimbulkan, dan model bagaimana seharusnya sebuah gereja itu. (Kis. 2:44-47). Inilah kebangunan rohani. Mengingat ilustrasi mengenai pipa air, kita dapat mengatakan bahwa kebangunan rohani adalah energi Roh Kudus yang tidak terhenti.
Dalam konteks ini, mengikuti pola Pentakosta, proklamasi orang-orang Kristen memiliki 'kuasa' sebagaimana Roh Kudus menyaksikan Kristus bersama dengan para murid (Yoh. 19:26-27; band. Kis. 4:33; 6:8; 10:38). Ini terbukti dalam misi Filipus di Samaria. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa ia mengalaminya dalam beberapa pelayanannya (1 Kor. 2:4; 1 Tes. 1:5). Turunnya kuasa Roh Kudus tidaklah menyelesaikan semua masalah. Kebangunan rohani yang terjadi selalu memiliki dampak yang bercampur, yaitu: rawan terhadap kesombongan rohani seperti di Korintus. Ini juga terjadi dalam kebangunan rohani pada waktu-waktu berikutnya. Karena itu, hal ini tidak mengejutkan kita.
Jonathan Edwards, teolog kebangunan rohani dari New England, bisa keliru karena ekstrim (over-emphasis). Ia menulis:
Harus diperhatikan, semenjak kejatuhan manusia sampai sekarang, karya penebusan dilaksanakan oleh Roh Kudus. Meskipun ada karya Roh Kudus yang konstan atau tetap, namun hal-hal yang terbesar yang telah dikerjakan selalu terjadi dalam waktu-waktu khusus, waktu kemurahan.
Kesempatan demikian sesuai dengan kata-kata Petrus dalam Kis. 3:19: 'Bertobatlah dan berbaliklah kepada Allah sehingga dosa-dosamu dihapuskan, sehingga waktu-waktu pemulihan datang dari Tuhan, dan Ia mengutus Kristus ...' Urutan kalimat di sini (pengampunan, pemulihan, kedatangan Kristus) menegaskan waktu-waktu pembaharuan dan kebangunan yang dimaksudkan oleh Petrus.
Kita menemukan dua fenomena dalam Kisah Para Rasul. Kita mendapatkan 'kasus khusus' dalam karya Roh Kudus melalui kelahiran kembali dan pertobatan. Tetapi melalui kuasa Roh Kudus (pertama kali dalam Pentakosta) terjadilah peristiwa monumental dalam Kerajaan Kristus. Pencurahan Roh Kudus menciptakan gelombang di seluruh dunia ketika Roh Kudus terus bekerja dengan kuasa. Pentakosta adalah pusat, tetapi gempa bumi memberikan guncangan lanjutan. Suara-suara tersebut terus berlanjut pada setiap jaman. Pentakosta sendiri tidak terulang; tetapi teologi Roh yang tidak memasukkan doa untuk kebangunan rohani, bukanlah teologi Roh Kudus yang benar.
Tujuan
Kita telah melihat bahwa ada dua dimensi dari Pentakosta: sejarah penebusan dan pengalaman pribadi. Yang pertama hanya satu kali dan tidak terulangi; sedangkan yang kedua adalah pelayanan Roh Kudus yang terus-menerus sampai sekarang.
Sebagai tambahan, tugas Roh Kudus adalah mengembalikan kemuliaan kepada ciptaan yang sudah jatuh dalam dosa. Seperti Calvin katakan, dunia ini diciptakan sebagai sebuah teater untuk kemuliaan Allah. Sepanjang sejarah, dunia ini selalu menampilkan kesempurnaan Allah yang tidak nampak. Khususnya di dalam pria dan wanita, gambar dan rupa Allah, kemuliaan ini harus dipancarkan. Tetapi mereka menolak memuliakan Allah (Rom. 1:21); mereka menajiskan diri sendiri (Rom. 1:28), dan kehilangan kemuliaan Allah (Rom. 3:23).
Tetapi kini, di dalam Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3) kemuliaan itu dipulihkan. Ia telah berinkarnasi bagi kita, dan kini Ia dimuliakan di dalam tubuh kemuliaan. Ciptaan ini sedang menuju kepada eskatologi, dan semua ini sudah dimulai dengan diri Kristus sebagai buah sulung. Kini Ia mengutus Roh Kudus, rekan kerja yang akrab dalam seluruh hidup-Nya di dunia ini, untuk mengembalikan kemuliaan dalam kita. Sehingga kita, yang dengan wajah yang tak terselubung memancarkan kemuliaan Allah, diperbarui serupa dengan gambar-Nya dengan kemuliaan yang semakin bertambah, yang datang dari Tuhan, yang adalah Roh (2 Kor. 3:18). Tujuan diberikannya Roh Kudus tidak lain adalah untuk pemulihan gambar Allah kembali, yaitu: transformasi menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah Gambar Allah. Menerima Roh Kudus berarti dibangkitkan ke dalam kuasa pelayanan-Nya senantiasa.
Menerima Roh Kudus
Perjanjian Baru menggambarkan persekutuan dengan Roh Kudus dari dua sudut pandang: karunia Allah dan penerimaan manusia. Roh Kudus diberikan oleh Bapa (Luk. 11:13). Tetapi Roh Kudus juga diterima oleh individu (Yoh. 7:39; Kis. 19:2; Rom. 8:15; Gal. 3:2). Dalam satu konteks dimana ia merenungkan mengenai keadaan jiwa kita, Paulus menegaskan bahwa ini terjadi 'melalui apa yang kamu dengar.' Ini dikontraskan dengan 'memelihara Taurat' (Gal. 3:2,5). Roh Kudus diterima dalam konteks seseorang beriman kepada Kristus sebagai Tuhan. Bagi Paulus, dalam pengalaman normal di dunia non-Yahudi, Roh Kudus diterima tidak terpisah dari iman kepada Kristus. Hanya dengan percaya kepada Kristus, Roh Kristus diterima. Karena percaya kepada Kristus berarti menerima Dia dan kediaman-Nya dalam kita. Ini adalah realita yang satu dan sama dengan penerimaan Roh Kudus dan kediaman-Nya, karena di dalam dan melaluiNya, Kristus datang untuk tinggal di dalam kita. Interaksi antara kediaman Kristus dan kediaman Roh Kudus dalam kita, Roma 8:8-9 menjelaskan bahwa kedua realita tersebut adalah satu dan dialami oleh satu individu. Tidak ada cara lain untuk menerima Roh Kudus kecuali melalui iman kepada Kristus. Memiliki Kristus adalah memiliki Roh Kudus. Bagaimana ini terjadi, dan apa implikasinya, merupakan topik pembahasan yang berbeda. (WS)
Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah
:
Momentum
Edisi
:
40/Triwulan II 1999
Judul Artikel
:
Pentakosta Pada Masa Kini?
Penulis
:
Sinclair B Fergusson
Halaman
:
28-37,41

Dikutip dari: http://reformed.sabda.org/pentakosta_pada_masa_kini